Juventus memang harus mengakui julukan yang disematkan para netizen kepadanya. Yakni “Badut Eropa”. Bagaimana tidak, juara Italia 9x berturut-turut tapi kok ya lemah banget ketika tampil di Liga Champions Eropa.

Banyak yang bilang, karena Juve enggak mampu bayar keputusan wasit di Eropa. Harganya memang jauh lebih mahal dari Italia, yang mampu cuma Real Madrid dan Barcelona.

Ya tapi itu hanya anggapan dan lelucon belaka. Kenyataannya memang Juventus ini mainnya ampas dan sampah sekali. Apalagi lawan Lyon tadi malam.

Tim berjuluk “Nyonya Tua” itu memang menang 2-1 atas Lyon. Namun, mereka kalah produktivitas gol tandang karena di leg pertama Lyon menang 1-0.

Padahal, Cristiano Ronaldo ini sudah gacor banget. Dia lah yang mencetak dua gol Juve tersebut. Selama pertandingan, memang kelihatan cuma Ronaldo doang yang mainnya semangat. Yang lainnya, “2 jam enggak ngapa-ngapain” kayak sebuah konten di Youtube.

Juve memang rada sial. Di leg kedua ini harusnya dipadati suporter mereka yang berniat comeback kayak musim lalu lawan Atletico Madrid. Ternyata ada pandemi COVID-19 yang memaksa pertandingan digelar tanpa penonton.

Kemudian baru berjalan 10 menit, Juve diganjar penalti rada tidak jelas. Houssem Aouar ditekel bersih Rodrigo Bentancur tapi wasit tetap menunjuk titik putih. Entah apa yang ada di kepalanya wasit, karena bola jelas didapat Bentancur.

Apalagi, wasit sempat diskusi sama petugas VAR namun tetap memberi penalti. Lalu ada anggapan Federico Bernardeschi melakukan pelanggaran lebih dulu kepada Aouar, entah mana yang benar.

Memphis Depay lalu mengeksekusi dengan tendangan sendok. Rada kurang aja sekali dia sama Nyonya Tua.

Menjelang akhir babak pertama, Juve gantian yang mendapat penalti karena Depay dianggap handball. Keputusan salah lagi dari wasit karena tangan Depay tidak aktif saat menjadi pagar bagus. Ronaldo gantian mengeksekusi penalti dengan sempurna.

Meski sama-sama dapat penalti, jelas penalti yang didapat Lyon bernilai dua karena mereka terhitung gol tandang. Juve butuh dua gol lagi supaya bisa lolos.

Nyatanya di babak kedua cuma bisa bikin satu gol saja. Itu pun Ronaldo sudah berusaha keras, menendangnya dari luar kotak penalti melalui tendangan jarak jauh Anyer-Panarukan.

https://twitter.com/RDJAkshayKumar/status/1291963919532056576

Setelah itu, minim sekali usaha para pemain Juventus untuk mencetak gol lagi. Malah yang semangat Ronaldo doang sampai jumpalitan. Padahal, mereka cuma butuh satu gol saja. Ya betul, hanya satu gol saja.

Ya memang dasar mental badut Eropa. Berlaga cuma buat hiburan saja. Padahal lawannya cuma tim underdog macam Lyon.

Musim lalu mereka juga tersingkir dari Ajax yang juga underdog. Kasihan itu Ronaldo sudah dibeli mahal-mahal tersingkirnya di babak gugur awal-awal, sama tim underdog pula. Itu pun Ronaldo semua yang mencetak gol Juventus di babak gugur dari musim lalu sampai musim ini.

Jelas ini mencoreng status Ronaldo sebagai “Mr. Champions League” yang sudah mengumpulkan banyak piala dan gol di UCL. Seusai laga, Ronaldo tampak marah langsung buka baju menuju ruang ganti. Siapapun juga bakal marah kalau main bareng teman-temannya yang ampas begitu.

Maurizio Sarri pun di ambang pemecatan. Namun masih bisa-bisanya dia berkomentar senang.

“Saya membuang kekecewaan karena tim bermain sangat baik malam ini. Mereka menunjukkan karakter dan memberikan segalanya, sehingga saya pulang dengan perasaan gembira,” ujarnya dikutip Kompas.com.

https://twitter.com/waseemsomro571/status/1291955790836768768

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here