Jerman makin mantap menyiapkan darah mudanya. Tim nasional U-21-nya kemarin mampu menjadi juara Piala Eropa U-21 usai mengalahkan Spanyol yang sama-sama masih berusia di bawah 21 tahunan.

Jerman cukup menang 1-0 saja di laga final. Skor standar tersebut sudah cukup membuat mereka juara karena syarat menjadi juara di final adalah mengalahkan lawannya dengan mencetak gol lebih banyak dari lawannya. Kebetulan, Spanyolnya enggak bisa bikin gol.

Sejak awal pertandingan berlangsung seru meski tak sampai menjurus kasar apalagi cabul. Jual beli serangan macam di Tanah Abang diperlihatkan kedua tim. Beruntung, dua-duanya punya kiper bagus. Kalau enggak bagus, pasti kedua tim sudah kebobolan banyak gol.

Sampai pada akhirnya, Jerman mampu mencetak satu-satunya gol yang dinanti-nanti itu. Gol tandukan Mitchell Weiser yang cukup indah meski lewat tandukan kepala.

Umpan dari salah seorang pemain Jerman mampu disundul dengan baik. Bahkan membuat kiper Spanyol hanya terdiam, seolah menunggu untuk tahu namamu macam liriknya Maliq and D’Essentials.

Pelatih Jerman, Stefan Kuntz, mengaku tak menyangka timnya bisa menjadi juara. Pasalnya, tim Panser muda hanya berstatus runner up terbaik saat lolos ke semifinal.

“Orang-orang melihat apa yang pemain lakukan hari ini. Delapan atau sembilan adalah pemain besar sekarang, tapi saya katakan kepada mereka bahwa jika mereka menang, orang akan mengingat mereka,” ucap Kuntz, di-copas dari Republika. 

Hasil ini tentu jadi modal bagus buat negaranya Adi Dassler itu, si penemu sepatu merek Adidas. Jerman punya banyak calon penerus bangsa mulai dari Serge Gnabry, Jeremy Toljan, Max Meyer, Julian Pollersbeck.

Tentu harapannya bakal melanjutkan tongkat estafetnya generasi Sami Khedira dan kawan-kawan pada Piala Eropa U-21 pada 2009. Mereka saat itu jadi juara yang diperkuat Manuel Neuer, Benedikt Hoewedes, Jerome Boateng, Sami Khedira, Mesut Oezil, dan Mats Hummels. Para penggawa timnas senior mereka saat ini.

Sementara itu, pelatih Spanyol, Albert Celades, cukup kecewa dengan kekalahannya. “La Rojita” gagal mempertahankan gelar juara setelah pada edisi sebelumnya mereka keluar sebagai juaranya. Apalagi, Spanyol terbilang lebih diunggulkan karena punya pemain-pemain hebat dan ganteng macam Saul Niguez, Marco Asensio, dan Gerard Deulofeu.

Pada 2011, Spanyol yang diasuh Luis Milla, pelatih timnas kita saat ini, mampu menjadi juara. Saat itu diperkuat Juan Mata, David de Gea, Ander Herrera, dan Thiago Alcantara.

Kami sedih seperti yang akan Anda pahami setelah kalah pada final. Kami menghadapi lawan hebat yang mengalahkan kami pada babak pertama,” katanya si Celades.

Main photo: Guardian Newspaper

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here