Oleh: Deny Adi Prabowo

Ketika Roman Abramovich memutuskan untuk mengangkat Antonio Conte sebagai manajer Chelsea per 4 April 2016, banyak media dan pengamat sepak bola yang mengangkat alisnya. Bukan karena ingin memamer pensil alis terbarunya, tetapi karena meragukan pelatih asal Italia itu.

Mereka menganggap mindset sepak bola Italia yang “kaku” bakal dilumat habis Liga Primer dengan jargon “Kick and Rush”-nya. Tapi apa yang dilakukan Conte dalam kurun waktu kurang dari setahun di Stamford Bridge plus direcoki kendala berbahasa Inggris, bisa dikatakan cukup efektif. Mengapa?

Semenjak menginjakkan kakinya yang belum tentu wangi itu di tanah Britania Raya, Antonio Conte sudah didzalimi. Berstatus sebagai otak kesuksesan tiga scudetti bersama Juventus secara berturut-turut, pria kelahiran Lecce, 47 tahun ini dianggap sebagai orang asing.

Mungkin Conte datang pada waktu yang salah. Bukan karena datang saat menjelang bulan Ramadhan, tetapi karena media saat itu lagi panas-panasnya memberitakan Jose Mourinho sebagai pelatih baru Manchester United (MU).

Kicauan akun resmi Setan Merah terkait pengumuman Mou sebagai manajer baru pada 27 Mei silam di-retweet 83.000 kali dan disukai 64.000 pengguna. Angka tersebut memang masih kalah dari jumlah subscriber-nya Karin Novilda alias Awkarin. Tapi lumayan lah daripada tidak ada yang retweet sama sekali.

Fenomena serupa juga terjadi di kubu tetangga sekomplek United, Manchester City. Memang, The Citizens “kalah booming” di dunia maya ketika mereka mengumumkan Josep ‘Pep’ Guardiola menggantikan Manuel Pellegrini.

Akun City hanya mendapatkan 2.800 retweet dan 1.900 likes saat itu. Tapi ini dibalas oleh tim konten strategis pasukan biru langit. Salah satu ikon Britpop, Noel Gallagher yang notabene sudah menjadi fans City sejak Paul Dickov masih menjadi penyerang tim diberi kesempatan untuk mewawancarai Guardiola.

Hasilnya? 700.000 pasang mata di Youtube menonton video esklusif tersebut. Baik yang matanya belo atau yang matanya sipit. Tak berhenti sampai di situ, satu foto di mana Guardiola melakukan “duck face” ketika wefie dengan Gallagher ikut menjadi viral di dunia maya.

Hasil gambar untuk guardiola gallagher duck face
Foto selfie Pep dengan Gallagher. (Futbol Sapiens)

Sedangkan Conte? Ketika The Blues memiliki gaffer baru, mereka hanya mendapatkan 26.000 retweet dan 14.000 likes. Saya pikir, ini bukan permasalahan klub mana yang lebih punya fanbase lebih besar. Melainkan siapa pelatih dengan citra yang lebih mentereng.

Tak Lancar Berbahasa Inggris

Bulan-bulanan yang didapat Conte di London kian menjadi-jadi lantaran ia mengalami kesulitan untuk mempelajari bahasa Inggris.  Gli Italiani memang kerap garuk-garuk kepala ketika belajar bahasa kaum Anglo-Saxon ini. Selain karena banyak ketombe, Conte memang kesulitan belajar bahasa Inggris.

Menurut laporan The Local yang mengutip salah satu pusat pembelajaran Bahasa Inggris, publik Italia hanya berada di peringkat 28 dari 70 negara Eropa dalam kemahiran berbahasa Inggris.

Orang Italia sepertinya perlu kursus di lembaga bahasa seperti English First, LB LIA, Wallstreet, atau TBI agar kemampuan Inggrisnya meningkat.

Contoh nyata bisa dilihat ketika Chelsea melangsungkan konferensi pers pertamanya menggunakan bahasa Inggris.

“Saya lupa untuk meminta maaf kepada wartawan semua atas bahasa Inggris saya. Saya belajar bahasa ini dan sangat penting. Saya baru dua hari di Cobham (tempat latihan Chelsea). Sangat fantastis bisa bekerja, saya melihat pemain memiliki sikap yang tepat,” papar Conte, 14 Juli silam.

Anda pikir, Conte bakal belajar bahasa Inggris dengan cepat? Tidak. Dua bulan lalu ketika menghadiri konferensi pers versus Manchester United, ia bahkan butuh lima kali untuk memahami maksud dari satu pertanyaan seorang wartawan soal Jose Mourinho.

Bisa disimak di video di bawah ini, bagaimana Conte seperti pejabat-pejabat Indonesia yang kebanyakan mikir saat ditanyai wartawan. Entah karena tidak menguasai atau karena memang tidak mengerti pertanyaannya.

Bandingkan dengan Guardiola yang dengan mudah memerintahkan otaknya untuk berbicara dalam lima bahasa (enam bahasa justru dikuasai Mourinho).

Bila anda perhatikan pula, komentar-komentar mantan hardman Lecce setelah pertandingan tak jarang terbata-bata dan menjawab dengan bahasa Inggris yang seadanya, sangat standar. Bahkan mungkin lebih standar bila dibandingkan dengan komentar tim-tim Eropa yang datang ke Indonesia di sesi pra-musim.

Toh, sekeras-kerasnya citra keras yang melekat di diri Conte sempat goyah juga. Momen itu datang ketika Chelsea takluk 1-2 dari West Ham di Piala Liga Inggris, Oktober lalu.

“Ada momen di mana saya menyesali keputusan saya untuk berubah. Jika saya tak menandatangani kontrak dengan Chelsea, mungkin saya tak akan meninggalkan Italia,” tuturnya kepada Sky Sport Italia.

Problem bahasa bukanlah momok baru bagi setiap insan dunia persepakbolaan untuk beradaptasi dan menunjukkan kinerja impresif di sebuah liga yang baru. Otak anda mungkin sudah melupakan puzzle memori yang berisi Dmytro Chygrynskiy saat membela Barcelona atau Lukas Podolski yang sempat mencari nafkah bersama Internazionale.

Kedua pemain itu mengalami kendala yang sama, bahasa. Fenomena ini justru menjadi paradoks lantaran kita kerap mendengar bahwa sepak bola adalah bahasa universal. Gawatnya, Conte berlaku sebagai manajer tim di mana dia harus mengatasi masalah-masalah eksternal sampai ‌internal tim yang rumitnya minta ampun.

Setelah menganalisa berbagai masalah yang dihadapi Conte, nalar kita tentu mengarah kepada pernyataan “Conte bakal segera angkat koper dari Stamford Bridge”.

Namun nyatanya, klasemen menunjukkan Chelsea berada di puncak klasemen Liga Primer. Hingga pekan ke-20, Chelsea unggul lima angka dari Liverpool. Bahkan unggul tujuh poin dari Guardiola dan 10 poin dari Mourinho. Luar biasa! Biasa di luar!

Conte Si Monster Ekspresif

Tentunya ini terbantu oleh fakta bahwa The Blues hanya bermain di Premier League saja. Tapi ini tak menjadi satu-satunya faktor yang menunjang performa John Terry dan kawan-kawan sepermainannya. Conte yang memiliki anak perempuan bernama Vittoria (red: kemenangan dalam bahasa Italia) melakukan beberapa keputusan dan tindakan yang simpel tapi berdampak masif.

Andrea Pirlo dalam buku biografinya mengaku telah menyesal memilih tempat duduk di sebelah kapten Gianluigi Buffon saat masih di Juventus. Bukan karena kalah ganteng atau apa, tetapi karena biasanya Conte suka ngomel dan melempar botol berisi air dingin ke arah kursinya meski timnya sedang unggul.

“Kata-katanya langsung menyerang Anda secara tepat dan Conte seperti monster. Dia tampaknya bisa melihat apa yang bakal terjadi selama 45 menit ke depan. Dia juga sempat memaksa kami melakukan simulasi skema bayangan dan tak akan berhenti sampai kami tidak melakukan kesalahan sedikit pun,” tulis Pirlo.

Seperti kebanyakan orang Italia, Conte juga sangat ekspresif. Kita tentu masih ingat bagaimana dia menendang bola dengan amarah meletus pasca Emanuele Giaccherini kehilangan bola saat Italia unggul 1-0 atas Spanyol pada Piala Eropa 2016 lalu.

Tak hanya ekspresi kemarahan, dia juga menularkan semangat positif untuk timnya. Hidung Conte sempat bengkok pasca merayakan gol, ia juga berlari memeluk fans Chelsea ketika timnya menjebol gawang lawan.

“Anda mungkin berpikir ‘santai, santai bos.’ Tapi itu memang sudah karakternya,” papar Eden Hazard pasca Chelsea menang 4-0 atas MU, Oktober lalu.

Conte juga sangat disiplin. Bak bocah ingusan yang tak pernah bolos mengaji. Bersama staffnya, dia mengontrol diet para pemain secara ketat dan menganalisis performa setiap pemain per sesi latihan. Tak jarang pula, Conte berdesis ketika timnya tampil di bawah performa dan ini melecut moral para pemainnya.

“Saya harus menyelesaikan situasi ini karena kami minimal kebobolan dua kali. Saya harus menemukan solusi untuk tim ini dan bekerja keras. Saya tidak bisa tidur bahkan sampai dua hari. Ketika saya tidak tidur, saya berkaca pada diri sendiri dan itu penting,” kata Conte pasca Chelsea dilumat Arsenal 0-3, September lalu.

Conte juga tidak pernah duduk ketika anak asuhnya berjuang di lapangan selama 90 menit. Semeledak-ledaknya ekspresi Jurgen Klopp di pinggir lapangan Anfield, pria Jerman itu sempat beberapa kali duduk di bench.

Conte tak pernah lelah berdiri di pinggir lapangan sambil berteriak-teriak hingga suara serak. Mirip dengan timer angkutan umum di Terminal Lebak Bulus. Ini merupakan bentuk dari “kesatuannya” dengan tim dan trik untuk merekatkan Chelsea yang hancur pasca ditinggal Mourinho.

“Dalam filosofi Conte, hanya ada dua. Dia bersama tim atau dia berlawanan dengan tim yang dia asuh. Tidak ada jalan tengah,” tulis Carlo Ancelotti di Telegraph.

Pelukan Ala Conte

Ketika Chelsea menang, ia tidak lupa memberikan pelukan hangat nan mesra bagi setiap pemainnya. Bukan karena dia penyuka sesama jenis, tapi kebiasaan ini memang sudah diterapkan sejak melatih Arezzo.

Anda mungkin berpikir ini hanyalah hal sepele dan merupakan pemandangan yang normal dalam pertandingan olahraga. Namun berpelukan ala Teletubbies memberikan dampak luar biasa dan ini disadari betul oleh Conte.

Hasil gambar untuk Conte expression
Pelukan mesra Conte kepada Costa. (Yahoo Sports)

Menurut penelitian yang dilakukan Brenda Davies, seorang pakar psikologi. Berpelukan meningkatkan produksi hormon oksitosin yang menghasilkan rasa cinta, bahagia, tenang, dan nyaman. Oksitosin juga terbukti dapat menurunkan tekanan darah dan hormon stres kortisol.

Tentu istilah-istilah itu asing di telinga para tukang sayur yang hanya tahu istilah “harga cabe” dan “bayar utang”. Jangankan mereka, kita saja yang lulusan S1 non-Psikologi mungkin belum tentu kenal istilah itu.

“Oksitosin bahkan memainkan peran dalam membantu tubuh tetap sehat. Oksitosin juga sebagai anti-inflamasi alami, dan memiliki sifat anti penuaan,” kata Davies kepada Daily Mail.

Pantas saja, kita selalu berhasrat ingin memeluk wanita yang kita sukai. Apalagi jika dia berpakaian seksi, tentu hasratnya lebih tinggi lagi.

Berbagai hal sepele nan seujung kuku itulah yang mendongkrak performa Chelsea setelah amburadul musim lalu. Patut ditunggu seberapa efektif magis Conte di Stamford Bridge terutama di paruh dua Premier League.

Jika Conte bisa membawa Chelsea ke tangga juara tanpa harus menguasai bahasa Inggris, maka dia sukses mematahkan perkataan Nelson Mandela, “Jika Anda berbicara dengan seseorang menggunakan bahasa aslinya, maka kata-kata Anda akan mengarah langsung ke hatinya.”

Atau, jangan-jangan dia benar-benar monster?


Deny Adi Prabowo

Tulisan merupakan opini pribadi penulis yang dihasilkan dari berbagai sumber. Tulisan ini sudah melalui proses redaksional ala Bolatory.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here