Manchester City harus menghentikan kemenangan mereka yang sudah dua kali menang di Liga Primer. Memang baru menang dua kali, tapi kan lumayan. Sayangnya, laga ketiga harus ditahan imbang oleh Wolverhampton Wanderers atau biasa disebut Wolves.

Main di bawah terik matahari dan panas-panasan, tak membuat kulit para pemain City ini menjadi hitam. Kecuali beberapa pemain yang memang dasarnya berkulit hitam. Bukan maksud rasis, tapi ya memang begitu adanya.

Sang tuan rumah sepertinya sudah akrab dengan matahari di stadionnya sendiri. Mereka tampil enjoy dan sukses menekan tim tamu. Bahkan mereka bisa bikin gol lebih dulu meski akhirnya harus dibilang offside oleh wasit. Memang benar, setelah lihat tayangan ulang terlihat offside. Dari Indonesia saja kelihatan.

City coba keluar dari tekanan dan berhasil membuat sebuah peluang rendang. Tendangan Sergio Aguero akhirnya menemui sasaran. Sasarannya adalah tiang gawang yang jauh lebih susah dibanding dimasukkan ke gawang.

Begitu juga dengan tendangan Raheem Sterling. Sasarannya adalah tangan kiper Rui Patricio, penjaga gawang timnas Portugal yang menjadi satu-satunya orang di tim Wolves yang boleh pakai tangannya.

Bukan cuma sekali saja, Patricio dua kali membuat penyelamatan yang bikin fans City nyaris orgasme merayakan gol. Bikin geregetan, kalau komentatornya Bung Jebret pasti sudah heboh “ah, ih, ah, iih..”.

 

Di babak kedua, Wolves malah berhasil unggul lebih dulu. Sundulan tipis otak kanan Willy Boly berhasil bersarang di gawang Ederson Moraes. Ederson cuma memandangi saja kayak lagi nonton orang main Drone.

Beruntung, City mampu bangkit selang 12 menitan. Proses golnya juga mirip-mirip. Semacam CTRL C+CTRL V biar kayak orang Malaysia. Bedanya, bola disundul pakai jidat kiri Aymeric Laporte yang melesat tajam masuk ke gawang.

Skor akhirnya bertahan sampai pertandingan berakhir. City harus puas cuma dapat satu poin saja. Sebuah hasil yang sebenarnya tak diinginkan oleh anak asuhannya Pep Guardiola.

Pep cuma pasrah saja menghadapi tim yang main pakai sembilan bek sekaligus. Apalagi semuanya berjenis kelamin laki-laki. Andai saja masih ada perempuannya mungkin masih enak dilihat.

“Kami bermain di level yang sama seperti musim lalu. Semua orang bisa membayangkan seberapa sulitnya melawan tim bagus dengan sembilan orang di lini belakang. Kami mencoba tapi kami akan lebih baik lagi karena secara defensif kami tak sesolid kami biasanya. Kami menciptakan cukup peluang untuk memenangi pertandingan, tapi itu merupakan satu poin yang bagus,” kata Pep, dikutip Okezone. 

Main photo: Squawka

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here