Namanya tim baru kemarin sore, Manchester City memang butuh waktu untuk bisa sejajar dengan klub papan atas macam Real Madrid, Barcelona, Bayern Muenchen, dan Juventus. Keempat tim yang disebutkan itu memang punya sejarah panjang sebagai klub legend.

Itulah yang membedakan dengan “The Citizens“. Klub asal Manchester itu memang hitungannya rada karbitan. Maksudnya, baru menjelma jadi klub besar saat dibeli oleh pengusaha Uni Emirat Arab, Sheikh Mansour bin Zayed Al Nahyan pada 2008.

Dari situ mereka menjelma jadi klub kaya raya. Padahal sebelumnya cuma jadi klub medioker. Bahkan pernah terjerembab ke divisi dua dan tiga pada penghujung tahun 1990-an.

Memang rada norak saat jadi OKB alias Orang Kaya Baru. Pemain-pemain bagus diborongnya, tanpa melihat kebutuhan tim. Mulai dari Robinho, Carlos Tevez, Kolo Toure, dan sebagainya.

Meski kaya, rupanya mental City tetap belum seperti klub-klub besar pada umumnya. Padahal sudah dihuni pemain-pemain besar macam Sergio Aguero, David Silva, dan Yaya Toure.

Tapi tetap saja, mereka masih belum ada apa-apanya saat berlaga di Eropa. Mungkin karena kurang pengalaman dan juga mental sebagai klub besar.

Hal itu diakui Pep Guardiola, sang pelatih yang pertama kalinya gagal mendapatkan trofi dalam satu musim. Ya, selama menangani Barcelona dan Bayern Muenchen, pelatih botak itu memang selalu mendapat piala. Bahkan selalu mencapai semifinal Liga Champions.

Bersama City, Pep mengalami degradasi prestasi. Melempem kayak kerupuk kelamaan di kaleng warteg.

Setelah setahun menangani City, Pep pun berani membuat kesimpulan bahwa klubnya yang berwarna biru muda kayak telur asin dari Brebes itu memang butuh waktu. Bahkan waktunya tak cuma setahun-dua tahun, tapi 10 tahun!

Waktu 10 tahun sama saja mengikuti pemilu sampai dua kali di Indonesia. Bisa merasakan dua periode seorang presiden. Berarti ribut-ribut di media sosialnya juga sampai dua kali.

“City adalah tim besar. Mereka sudah ada di Liga Champions lima tahun berturut-turut, satu-satunya tim Inggris yang melakukannya beberapa musim terakhir. Tapi untuk mencapai level Barca, Madrid, Bayern, dan Juve, sangat sulit. Anda butuh waktu satu dekade,” katanya.

Ya, keempat klub itu memang lagi bagus-bagusnya saat ini. Tak dipungkiri keempatnya adalah klub yang punya sejarah dan prestasi yang panjang dan banyak. Tak seperti City yang baru empat kali juara Liga Primer dan satu gelar Eropa, yakni Piala Winners tahun 1970.

Pep mengaku tak khawatir karena setidaknya City sudah menjalani setengah dekade dalam perjalanannya menjadi klub besar. Tinggal butuh beberapa tahun lagi untuk menyiapkan Kevin de Bruyne dan kawan-kawan memiliki mental bajingan. Mental yang tanpa ampun membantai para lawannya.

“Saya berharap bisa melakukan hal bagus, seperti yang saya lakukan di musim pertama, karena saya menikmatinya. Terdapat beberapa pendapat yang mengatakan itu tidak berjalan dengan baik tapi hal itu tidak termasuk apa yang telah kami lakukan hingga saat ini,” katanya seperti di-copas Goal.

Main photo: The Independent

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here