Daniele De Rossi rupanya memiliki cita-cita yang mulia. Tentu beda dengan cita-cita masa kecil generasi 90-an yang dulunya ingin jadi pilot, dokter, insinyur, sampai pemadam kebakaran. De Rossi punya hasrat jadi pelatih.

Pelatih memang dikatakan sebagai pekerjaan mulia, bahkan mendapat pahala yang terus mengalir. Jika melihat pada tiga amal yang tak putus, maka ilmu yang bermanfaat jadi salah satunya. Pelatih juga demikian, memberikan ilmu sepak bola kepada banyak orang pastinya banyak mendapatkan pahala.

De Rossi banyak belajar dari pelatih-pelatih yang pernah membinanya, seperti Luciano Spalletti, Antonio Conte, dan Luis Enrique. Awalnya gelandang Roma itu tak terpikir jadi seorang pelatih. Tapi lama-lama kepingin juga.

Dia mungkin sadar meski gajinya yang lumayan gede pas jadi pemain itu tak bakal mencukupi kehidupan pada hari tuanya. Apalagi kalau melihat zaman serba susah, belum ditambah cicilan kartu kredit segala macam.

Hasil gambar untuk de rossi spalletti
De Rossi bersama pelatih favoritnya yang botak. (Source: XtraTime)

Makanya pemain lulusan perkuliahan akademi Roma itu mulai bersikap visioner layaknya calon-calon pemimpin daerah. “Saya telah memikirkan masa depan sebagai pelatih,” ujarnya dikutip Football-Italia.

“Saya melihat banyak pemain yang tak ingin jadi pelatih dan menghabiskan sisa hidup mereka untuk liburan. Tapi setelah enam bulan mereka berubah pikiran bahkan terpaksa bekerja di tim Seri C. Saya berbeda, tak ingin menolaknya di awal masa pensiun,” kata pemain berwajah ganteng biasa itu dikutip Football-Italia.

Lebih lanjut, De Rossi menyebut para pelatihnya terdahulu yang telah memberikan ilmu yang bermanfaat kepada dirinya. Bahkan dia berharap mendapat ilmu dari sang maestro nan fenomenal, Pep Guardiola.

“Saya beruntung punya waktu cukup bekerja bersama dua di antara 10 pelatih terbaik dunia: Luciano Spalletti dan Antonio Conte. Saya pernah bermain bersama Guardiola, jika saya jadi pelatih saya akan memintanya untuk datang sehingga saya bisa melihat cara dia melatih.”

De Rossi memang benar-benar ingin jadi pelatih. Maklum, usianya sudah bukan lagi usia generasi millenial yang doyan main Instagram dan memantau timeline akun Lambe Turah. Dia akan belajar jadi pelatih yang pekerjaannya melatih.

“Saya sangat ingin jadi pelatih. Dulu tak langsung punya keinginan itu, tapi pada beberapa momen membuat saya tertarik,” sambungnya.

Sebal dengan Pemain Millenial

Pada usianya yang sudah memasuki masa puber kedua, De Rossi mengaku tidak suka dengan sisi modern sepak bola. Dia tak nyaman melihat junior-juniornya yang jauh lebih muda darinya yang kebanyakan pemuda tanggung yang baru dapat KTP.

Para pemain muda masa kini yang disebut sebagai generasi millenial itu gemar sekali main media sosial. Sedikit-sedikit selfie atau update status. Bahkan dilakukan di ruang ganti sebelum dan sesudah pertandingan.

Hal itu bikin De Rossi gengges alias risih, cenderung iri, meski tak sampai terangsang. Bahkan rasanya ingin menghajarnya dengan tongkat bisbol. Sungguh kejam.

Maklum, saat dia muda dulu memang belum ada yang namanya media sosial. Internet pun masih jarang kayak laron di musim panas.

Hasil gambar untuk de rossi young
De Rossi waktu masih piyik. Kasihan belum ada internet zaman dia muda. (Source: Pinterest)

“Semuanya berbeda dengan 20 tahun lalu. Ketika saya masih muda, banyak pemain yang lebih tua berkata ‘tidak seperti zaman saya’. Ternyata sekarang saya mengerti,” kata pemain yang punya tato kejam di kakinya itu.

“Kadang saya terganggu melihat pemain muda ber-Instagram live video di ruang ganti sebelum pertandingan. Saya ingin ambil tongkat bisbol dan menghantam gigi mereka, tapi mereka baru berusia 18 tahun jadi harap dimaklumi,” sambungnya lagi.

Main photo credit: Sports Illustrated

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here