Entah Chelseanya yang kejagoan atau Juventusnya yang kelewat culun, Chelsea sukses membantai Juventus yang kerap dijuluki badut Eropa dengan skor 4-0. Ini merupakan kekalahan Juve paling gede sepanjang ikut Liga Champions sejak 1960.

Memang bikin malu saja ini Juve. Jauh-jauh datang ke London cuma buat dibantai, diacak-acak, diobrak-abrik pertahanannya. Padahal, Juve bisa dibilang salah satu tim dengan pertahanan terbaik musim ini di Liga Champions. Sempat tiga pertandingan tanpa kebobolan sama sekali.

Namun, kali ini beda. Yang dihadapi adalah juara Liga Champions musim lalu. Juve memang harus banyak belajar supaya jangan ngelawak melulu.

Di babak pertama, bisa dibilang skor belum cukup timpang karena Juve hanya kebobolan satu gol. Meski secara permainan jauh menang Chelsea ke mana-mana.

Trevor Chalobah yang melakoni debutnya justru bisa mencetak gol lewat tendangan tegas di kotak penalti memanfaatkan umpan pojok yang disambut pakai tangannya Antonio Rudiger. Pantulan bola dari tangan Rudiger tidak dianggap pelanggaran oleh wasit merunut pada peraturan baru musim ini. Akhirnya gol tetap disahkan.

Juve sempat memiliki ancaman ke gawang lewat cungkilan Alvaro Morata. Namun dengan sigap Thiago Silva menyapunya tanpa menggunakan sapu ijuk.

Di babak kedua, bencana dimulai cukup cepat. Hanya dalam tempo tiga menit Juve kebobolan dua gol. Pertama lewat tendangan pasti Reece James yang tidak ada pengawalan berarti.

Tiga menit kemudian, pertahanan Juve diobok-obok Hakim Ziyech dan kawan-kawan. Benar-benar pontang-panting itu pemain-pemain Juve diacak-acak di pertahanan sendiri. Bola berakhir di kaki Callum Hudson-Odoi yang menendang bola ke gawang dengan enaknya.

Juve mencoba ganti formasi dengan memasukkan beberapa pemain tapi ya percuma. Memang dasar kualitasnya segitu saja. Tidak ada perubahan berarti.

Malah menjelang akhir babak kedua, Chelsea menambah gol lagi lewat Timo Werner. Bayangkan, seorang Werner saja bisa membobol gawang Juventus. Betapa gampangnya itu pertahanan Juve dibobol. Jangan-jangan, lawan AHHA PS Pati juga bisa kebobolan.

Gara-gara gol tersebut, Juve menderita kekalahan paling besar di Liga Champions sejak 1996 atau sejak 2004 di Seri A. Terakhir kali mereka kalah besar di UCL yakni pada 1959 waktu kalah 0-7 dari Wiener. Kemudian mereka paling banter kalahnya 0-3 atau 1-4.

Di Seri A, kekalahan dengan marjin empat gol terakhir terjadi waktu dibantai AS Roma dengan skor yang sama. Cupu sekali.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here