Gianluigi Buffon telah menasbihkan diri sebagai pemain yang paling lama bermain untuk Juventus. Kiper yang makin lama makin terlihat tua itu mencatat rekornya saat mengalahkan Sampdoria 1-0 di Seri A.

Juve memang tampil dominan tapi pada akhirnya cuma bisa cetak satu gol saja lewat gol tak biasa Juan Cuadrado. Biasanya si pemain lincah itu suka ngepot sana-sini buat cetak gol, tapi kali ini Cuadrado mencetak gol lewat sundulan coming from behind.

Skor bertahan sampai laga selesai, karena memang sudah waktunya selesai. Tapi bagi Buffon, kemenangan ini bukan sekadar kemenangan. Pria yang sudah cocok dipanggil “opa” itu menjadi pemain yang paling banyak menit bermainnya di “La Vecchia Signora“.

Dia mencatatkan waktu 39.711 menit, mengalahkan pemegang rekor sebelumnya, Giampiero Boniperti, yang lama banget pegang rekornya pada periode 1946-1961, yakni 39.680 menit. Zaman di mana Indonesia dikuasai rezim Orde Lama, zamannya Bung Karno.

“Saya merasa terhormat bisa mengenakan kostum Juventus dalam waktu yang lama dan saya harap bisa tetap memakainya untuk beberapa waktu lagi,” ujar pria berparas ganteng mutlak itu.

Selama membela klub berkostum putih-hitam yang kayak baju narapidana itu, Opa Buffon telah memberikan tujuh gelar Scudetto, dua Coppa Italia, dan lima Supercoppa. Hanya satu gelar yang belum pernah dia berikan buat Juve, yakni Liga Champions. Kasihan.

Sebuah momen yang ditunggu-tunggu publik sedunia, kapan kiper terbaik dunia itu bisa menggenggam Liga Champions. Buffon cuma nyaris saja dua kali hampir memegangnya, yakni pada 2003 dan 2015. Sayang, kiper berusia 39 tahun itu cuma lewat saja, tanpa bisa meraih hatinya, apalagi menciumnya.

Mungkin, menunggu Buffon meraih trofi Champions sama saja menunggu Liverpool kapan juara Liga Primer. Lama banget, padahal sudah membela Juve dari zaman Presiden Megawati.

Itulah kenapa, mantan kenangannya Parma itu masih betah main bola. Padahal pemain-pemain lain sudah asyik nonton drama Korea di rumah, menikmati hari-hari pensiunnya.

“Jika saya memenangkan Liga Champions saya akan kosong, itu dalam pikiran saya. Trofi itu yang masih jadi motivasi saya bermain,” kata Buffon.

Di sela-sela wawancaranya itu, Opa Buffon juga curhat colongan alias ‘curcol’. Sebagai seorang kiper, sudah sepantasnya mereka siap disakiti. Bukan cuma jadi seorang pacar yang siap disakiti, kiper pun juga demikian.

“Seorang kiper harus masokis. Kiper sama dengan wasit, punya kekuasaan buat beri perintah tapi hanya bisa kebobolan dan tak bisa mencetak angka, kemudian berujung menahan berbagai hinaan,” ucapnya dikutip Football-Italia. 

Main photo credit: Goal

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here