Nama Radja Nainggolan sudah tak asing lagi di dunia sepak bola. Apalagi bagi orang Indonesia. Mendengar namanya saja sudah sangat ‘Indonesia’ sekali.  Pemain timnas Belgia tersebut juga merupakan salah satu gelandang terbaik di Serie A dan di Eropa. Radja menjadi andalan AS Roma dalam beberapa musim terakhir ini.

Namun dibalik semua kesuksesan yang diraih Radja saat ini, terdapat kisah tak seindah Kisah Kasih di Sekolah yang dinyanyikan oleh Chrisye. Banyak hal pilu yang ternyata ada di balik hidup pria berwajah ganteng nasionalis itu.

Radja adalah putra dari Lizy Bogaerts yang merupakan seorang warga asli Belgia. Dari garis keturunan ibunya itu lah Radja bisa untuk membela timnas Belgia. Meski tidak dipanggil lagi untuk Piala Dunia.

Lizy merupakan orang Belgia beretnis Flandria yang membesarkannya bersama tiga saudara tiri dan kembaran dari Radja yaitu adik perempuannya. Sedangkan nama Nainggolan yang dimilki oleh Radja jelas bukan merupakan marga dari suku Manado melainkan Batak, didapatkan dari ayahnya.

Ayah dari Radja perlu diketahui adalah merupakan seorang warga negara Indonesia dan bernama Marianus Nainggolan. Berkat keturunan dari batak, ia bisa saja membela timnas Indonesia, namun Radja tidak memilihnya. Lain lagi kalau mau membela timnas Senegal. Kalau itu sepertinya ia tidak bisa.

Namun ketika Radja dan adiknya masih anak-anak, sang ayah berpisah dengan ibunya. Bapaknya pergi tiga kali lebaran dan tiga kali puasa bahkan lebih, entah ke mana. Penderitaan gelandang Roma itu makin berat ketika Lizy meninggal dunia di tahun 2010. Seketika dia kehilangan sosok ibu setelah kehilangan sosok ayah.

Seperti yang dilansir dari Liputan6, sebelum meninggal sang ibu dari Radja bekerja hingga 10 jam per hari untuk memenuhi kebutuhan keluarga saat Radja kecil. Wajar kalau dia begitu kehilangan.

“Saat itu ada tiga orang yang tinggal di rumah kami. Ayah saya sudah meninggalkan kami. Ibu saya harus membayar banyak uutang. Dia mendapat gaji 1.300 euro dengan bekerja 10 jam per hari,” kata Radja Nainggolan dikutip dari Liputan6.

Meski mendapat gaji yang sepertinya lumayan banyak, namun perlu diingat bahwa mereka saat itu tinggal di Belgia di mana biaya kehidupan lebih mahal sepertinya dibanding tinggal di Bekasi.

Radja juga mengungkapkan bahwa ia pernah memakan makan yang sama hingga tiga kali dalam sepekan. Ia tidak menjelaskan lebih lanjut makanan apa yang dimakannya. Namun yang pasti bukan es kepal Milo karena waktu itu belum ada.

“Kami bisa makan makanan yang sama tiga kali dalam sepekan. Kami juga pernah hidup sebulan tanpa listrik,” papar mantan pemain Cagliari tersebut.

Radja yang kemudian menjadi pemain sepak bola yang sukses, kemudian sempat kembali ke Indonesia pada tahun 2014 lalu. Kedatangannya saat itu untuk mencari sang ayah, bukan untuk nyoblos karena bertepatan dengan pemilu.

Namun Radja yang bermaksud untuk memaafkan sang ayah, malah dibuat kecewa. Ternyata sang ayah malah menghiraukannya. Bahkan malah meminta uang darinya. Sungguh tega, tak diaku anak sendiri.

“Saya pulang ke Indonesia empat tahun lalu. Saya ingin memberikan ayah kesempatan sekali lagi. Saya ingin bisa memaafkannya. Tapi dia mengabaikan saya dan malah meminta uang kepada saya,” ujarnya.

Radja memulai karier di Italia pada tahun 2006 saat bermain untuk Piacenza. Pada tahun pertamanya ia mengaku sempat frustasi.

“Saya sempat tak mau pergi ke Italia. Saya ingin pulang ke Belgia setelah enam bulan berada di Italia, tapi kakak saya meyakinkan saya untuk bertahan. Saya mendapat gaji 1.400 euro per bulan di Pescara dan saya bisa mengirimkan 500 euro kepada ibu saya setiap bulannya,” pungkasnya.

Radja akhirnya berubah menjadi pesepak bola yang keren. Bahkan main di klub top Eropa seperti Roma. Bayangkan kalau saat itu dia memilih pulang ke Belgia, bukan tak mungkin kariernya cuma bakal mentok di klub Anderlecht atau bahkan malah main di PSMS Medan.

Setelah diabaikan oleh sang ayah, Radja kini diabaikan lagi oleh pelatih Belgia, Roberto Martinez. Dia tak dipilih masuk skuat Piala Eropa 2016 dan Piala Dunia 2018. Padahal performanya sudah keren banget.

Entah salah apa, pokoknya Martinez macam sensi gitu sama Radja. Mungkin karena namanya ngeselin kayak nama grup band dari Kalimantan Selatan. Entahlah.

Semangat terus ya, Lae!

https://twitter.com/amirulh000/status/992004452491018240

 

Main photo: essentially sports

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here