Segala macam cara dilakukan Carlo Ancelotti untuk menahan Philipp Lahm di Bayern Muenchen. Namun, semua bujuk rayu tersebut gagal. Lahm tetap keukeuh untuk pensiun dini.

Lahm memang membuat keputusan mengejutkan bulan Februari lalu. Usai pensiun dari tim nasional Jerman, sekarang dia mau pensiun dari kariernya sebagai pesepak bola profesional.

Pensiunnya Lahm memang terbilang pensiun dini. Maklum, pemain berwajah imut kayak anak sekolah jajan cireng itu masih berusia 33 tahun. Usia yang masih dibilang muda untuk dikatakan pensiun dari sepak bola.

Seorang pemain bola biasanya pensiun di atas usia 35 tahun, saat mulai merasakan tanda-tanda puber kedua. Sedangkan bagi seorang pemain belakang, usia 33 tahun masih bisa diandalkan di sektor pertahanan.

Lihat saja Dani Alves musim ini. Pada usianya yang sudah mencapai 34 tahun, permainannya masih gila-gilaan macam Dom Toretto beraksi di jalan raya. Bahkan, Paolo Maldini saja masih main meski usianya sudah kepala empat.

Itulah mengapa, banyak yang menyayangkan keputusan Lahm untuk pensiun dini. Biasanya kalau pekerja kantoran pensiun usia 55 tahun, nah ini pensiun usia 33 tahun.

Mau dikasih santunan pensiun tapi rasanya masih terlalu cepat. Kasihan kan anak istrinya nanti mau dikasih makan apa selama 22 tahun ke depan.

Salah satu pihak yang berusaha membujuknya sekuat tenaga tentu saja Ancelotti, pelatihnya di Bayern Muenchen. Hampir setiap hari, pelatih berjuluk “Don Carletto” itu merayu Lahm meski tanpa rayuan gombal.

Ancelotti selalu merayu-rayu Lahm agar mau melakukannya. Belum diketahui apakah sampai diiming-iming permen dan uang seribuan atau tidak. Namun, Lahm selalu menolak dengan alasan takut dosa. Bahaya kalau sampai digerebek warga.

Tak pernah bosannya Ancelotti bertanya kepada Lahm setiap hari. Semacam minum obat tiga kali sehari. Namun, Lahm mengaku tak pernah bosan ditanya terus-terusan.

“Ancelotti mencoba segala cara untuk meyakinkan saya untuk tidak pensiun. Hampir setiap hari dia melakukannya dan justru jadi hal menarik buat saya,” kata pemain jebolan akademi Muenchen itu.

Selama 15 musim memperkuat Bayern, Lahm sepertinya sudah cukup kenyang dengan segala gelarnya. Piala Dunia sudah, Piala Dunia Antar Klub sudah, Piala Super Eropa sudah, Liga Champions sudah, Bundesliga apa lagi. Sampai bosan juara melulu.

“Saya punya waktu untuk menikmati akhir karier. Saya hanya berharap para suporter mengingat saya sebagai pesepak bola yang bagus,” tambahnya lagi.

Main photo credit: Sportal

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here