Gianluigi Buffon melakoni laga terakhirnya yang penuh haru bersama Juventus, klub yang sudah dibelanya selama 17 tahun. Kiper yang layak menyandang status “legend” itu telah memutuskan meninggalkan “I Bianconeri” akhir musim ini.

Pada laga melawan Hellas Verona, Juve memenangkan pertandingan tersebut dengan skor tipis saja, 2-1. Sebenarnya laga ini juga cuma sekadar formalitas saja. Soalnya Juve sudah dipastikan juara dan Verona juga sudah dipastikan degradasi.

Namun, laga ini jadi emosional bagi Buffon, Juventus, dan fans-nya yang menamakan dirinya Juventini. Segenap Juventini menghadiri Stadion Allianz, entah apakah ada Juventini dari Sorong atau Merauke yang ikut menyaksikan momen ini.

Yang jelas, saat Buffon memasuki lapangan untuk pemanasan sudah disambut dengan penuh haru. Kiper berusia 40 tahun itu yang jenggotnya mulai terlihat uban tersebut sempat menyalami beberapa suporter. Tapi tak mungkin menyalaminya semua, bisa-bisa habis 20 episode acara Karma di ANTV. 

Pertandingan lalu dimulai seperti biasanya, yakni peluit wasit yang bunyinya tak seperti peluit parkir Alfamart yang rada cempreng. Di babak pertama Juve menguasai jalannya laga dan membuat sejumlah peluang, namun kiper Verona bernama Nicolas tanpa Saputra bermain gemilang.

 

https://twitter.com/Footy/status/997859903128653825

Sedangkan Buffon cuma sekali saja melakukan penyelamatan oke. Maklum, namanya Verona tim semenjana rada susah menembus pertahanan Juve yang pada laga itu pakai kostum baru. Jersey asli yang belum ada di Tanah Abang.

Harusnya Nicolas ini tahu diri karena laga ini adalah momennya Buffon. Jadi harusnya lebih banyak Buffon yang disorot untuk melakukan penyelamatan. Atau kalau perlu mereka tukar kaus, Buffon disuruh jaga gawang Verona biar makin keren dengan serangan-serangan berartinya Juve.

Di babak kedua, barulah Juve membuat dua gol langsung. Pertama lewat sepakan lemah Daniele Rugani. Kedua lewat sepakan bebas Miralem Pjanic yang cuma bikin Nicolas terdiam mematung bak manekin Ramayana.

Sampai akhirnya tiba lah perpisahan yang tak ditunggu-tunggu segenap warga Juve. Buffon ditarik keluar lapangan untuk digantikan Carlo Pinsoglio, kiper ketiga Juve yang enggak pernah tanding bola musim ini. Kasihan, padahal latihannya cukup rajin.

Buffon ditarik bukan karena cedera jari manis, tapi karena akan mendapat standing ovation dari seluruh stadion. Sebelum keluar lapangan dia mendapat pelukan hangat serta ciuman mesra dari seluruh pemain di timnya. Sempat juga dia menyalami pemain lawan, tanpa ada rasa takut dilawan.

Dia keluar lapangan layaknya manusia biasa. Disambut oleh pemain-pemain cadangan yang membuat barisan Guard of Honour macam among tamu di kawinan. Cowok berwajah ganteng kharismatik nan nasionalis itu sempat meneteskan air mata tanda terharu.

Buffon bahkan sempat duduk sambil memejamkan mata, menikmati suasana Allianz Stadium yang mungkin untuk terakhir kalinya. Sepertinya dia sedang mengenang-ngenang masa-masa indah di Juve, termasuk kebobolan-kebobolannya juga.

Setelah itu dia berjalan mengelilingi lapangan untuk menyapa fans di barisan depan. Lagi-lagi dia tak mampu memeluk semua orang yang ada di stadion itu. Terlalu banyak, tidak kenal juga.

Sampai setelah seremoni angkat piala, Buffon juga masih melayani foto serta memeluk cium kepada setiap orang yang dijumpainya di lapangan.

https://twitter.com/juventusfcen/status/997884596619378688

Wajar jika Buffon begitu haru. Pria paruh baya itu sudah 17 musim berada di Turin. Entah di sana dia punya rumah sendiri atau masih mengontrak, belum diketahui.

Buffon datang ke Juventus pada 2001 dengan status kiper termahal di dunia sampai sekarang. Tepat pada tahun itu, beberapa grup musik seperti Radja juga mengawali kariernya.

Sebanyak 19 trofi sudah dia hasilkan bersama Juventus, menjadi pemain paling banyak menyumbangkan trofi buat klub legendaris tersebut. Sembilan di antaranya adalah gelar Scudetto, yang juga jadi pemain paling banyak mendapatkan gelar Seri A. Itu belum termasuk dua gelar yang dicolong Inter gara-gara kasus Calciopoli.

Bukan cuma prestasi dan skill saja yang bikin warga Juve begitu cinta padanya. Tetapi loyalitasnya yang tanpa batas. Berstatus sebagai juara dunia pada 2006, Buffon rela turun kasta padahal sudah banyak tawaran dari klub lain untuk pindah.

Selain itu, sikap kharismatik dan jiwa kepemimpinannya layak dijadikan anutan. Dia selalu menghargai siapapun lawannya, termasuk ramah dengan para suporter.

Trofi Scudetto musim 2017/18 menjadi trofi terakhir yang dia angkat bersama “Si Nyonya Tua”. Setelah ini dia akan meneruskan ban kaptennya kepada Giorgio Chiellini.

Meski gagal mendapatkan trofi Liga Champions, setidaknya Buffon pernah mengangkat Piala Dunia, trofi yang tak semua pemain bisa mendapatkannya. Lionel Messi, Cristiano Ronaldo, bahkan Widodo Cahyono Putro saja belum pernah mengangkatnya.

“Hari ini sangat tepat untuk Gigi Buffon untuk mendapatkan kehormatan atas segala yang sudah dilakukannya, tak ada jalan yang lebih baik untuk menyelesaikan musim ini. Saya melihat dia melakukan pekerjaan yang hebat dan dia layak mendapatkan perpisahan seperti ini,” ujar Massimilliano Allegri dilansir Kompas.

https://twitter.com/OldDaysFootball/status/997892880483147776

Buffon sendiri sudah mengucapkan salam perpisahannya sebelum laga melalui Instagram yang ada centang birunya. Bukan lewat akun abal-abal yang suka pakai embel-embel ‘Buffon’ di belakangnya.

“Juventus akan selalu ada di atas kepentingan semua pemain, selalu! Juventus akan terus menulis halaman-halaman penting di buku itu, sesuatu yang aku percaya tak akan berhenti. Pasalnya klub ini punya DNA unik yang tak bisa disamai. Tak bisa diulang dan luar biasa,” tulisnya.

“Juve adalah keluarga, keluarga saya. Saya tak akan pernah berhenti mencintainya, berterima kasih kepadanya, dan memanggilnya rumah. Karena Juventus sudah memberikan begitu banyak hal. Segalanya. Melebihi apa yang saya berikan.”

Lichtsteiner Juga Pisah

Bukan cuma Buffon saja yang menjalani laga perpisahan di laga itu. Stephan Lichtsteiner yang sudah tujuh tahun membela Juve juga ikutan pisah ranjang. Pemain asal Swiss itu juga dapat penghormatan saat meninggalkan lapangan.

Bedanya, Lichtsteiner keluar pada menit ke-91 di mana pergantian Juve sudah terpakai semua. Namun, Claudio Marchisio lalu membuang bola dan meminta wasit menghentikan laga sejenak.

Lichtsteiner lalu berjalan keluar lapangan sambil mendapat standing ovation juga dari penonton yang tak dibayar pada laga itu. Pemain yang kalau buang air besar jarang sambil berdiri itu juga disambut Guard of Honour dari para pemain dan staf Juve.

Lichtsteiner dianggap berjasa membantu Juve selama tujuh musim yang menghasilkan tujuh Scudetto secara beruntun. Dia memutuskan untuk meninggalkan Juve karena merasa sudah cukup berkarier di sana.

https://twitter.com/juventusfc/status/997868638706262017

Main photo: Squawka

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here