Piala Dunia ternyata tak segampang cari stop kontak buat ngecas HP. Brasil yang punya pemain segudang, bahkan tukang sampah pinggir jalan di negaranya juga jago main bolanya, ternyata kesulitan buat menang.

Selecao” mesti menunggu sampai 90 menitan untuk bisa meraih kemenangan penting dalam lanjutan Grup E. Padahal, lawannya adalah Kosta Rika yang di atas kertas dan di depan layar laptop, kualitasnya masih jauh di bawah Brasil.

Brasil memiliki pemain bintang yang tinggal sebut saja. Dari Alisson, Thiago Silva, Marcelo, Philippe Coutinho, Casemiro, Douglas Costa, Roberto Firmino, Gabriel Jesus, Willian, Paulinho, Fernandinho, Marquinhos, dan tentu saja Neymar.

Sedangkan Kosta Rika, paling-paling cuma Bryan Ruiz dan Keylor Navas saja yang dikenal masyarakat. Coba saja dites di grup WA bapak-bapak majelis ta’lim, belum tentu ada yang kenal Johny Acosta, Cristian Gamboa, Celso Borges, Marco Urena, Johan Venegas, atau Oscar Duarte. Kalau ditanya itu, mereka pasti jawabnya cuma kenal Rocky Balboa.

Dari menit pertama, Brasil yang pakai kostum biru kayak bajaj BBG memang langsung menguasai permainan. Setengah lapangan milik Brasil, karena setengahnya lagi punya Kosta Rika.

Pertahanan si Rika yang bukan pasangannya Rhoma Irama memang sulit banget dijebol. Sudah dicoba berbagai macam gaya tapi tetap sulit. Bahkan Neymar sampai sudah diving-diving segala macam minta penalti, tetap tak bisa diraih.

Kiper Navas berulang kali melakukan penyelamatan gemilang. Silakan cek saja di Youtube dengan kata kunci “Brazil Costa Rica World Cup 2018” kalau tak percaya.

Sekalinya Navas gagal menepis, masih ada saja kaki atau anggota tubuh pemain Kosta Rika yang lainnya menghalangi gawang. Pertahanan mereka begitu rapat, begitu ramai macam bubaran nonton bioskop.

Peluang-peluang datang bejibun tak mampu dimanfaatkan dengan baik. Ada sebuah peluang dari Neymar yang sudah tak terkawal, malah ditendang keluar lapangan. Padahal gawang sudah segede Gaban berada di depan matanya, entah matanya rabun atau gimana kurang tahu.

Mereka juga bolak-balik dihajar oleh pemain Rika sampai terjatuh. Aksi-aksi individu tapi masih sopan diperagakan para pemain Brasil sehingga harus dijatuhkan agar berhenti.

Para pemain Brasil sampai pada frustrasi dibuatnya. Diserang dari mana-mana kok tidak gol-gol juga. Sementara pemain Rika mengulur-ulur waktu karena hasil seri lawan Brasil sudah bagus buat mereka, sebuah kebanggaan.

Sayang, menit 90 jadi momok menakutkan bagi Rika. Konsentrasi dan stamina tampak mulai hilang akibat dihajar terus tiap malam macam pengantin baru.

Saat wasit pinggir mengangkat papan tambahan waktu, di situ lah terjadi gol yang tak diinginkan sama sekali oleh Rika. Berawal dari Firmino yang wajahnya ndeso menyundul bola ke Gabriel Jesus yang berada di depan gawang Navas. Jesus mencoba mengelabui bek Rika entah siapa, soalnya namanya kurang terkenal.

Peluang menendang terbuka, tapi justru Coutinho yang muncul dari belakang mencocor bola. Rada kurang ajar sebenarnya, bola masih dalam penguasaan Jesus, tapi diembat oleh Coutinho. Untung saja gol.

Bola masuk ke kolong Navas yang hari itu lupa pakai kain batik Jawa plus beskapnya. Akibatnya bisa bobol dari sela-sela kakinya. Di situlah warga Brasil melompat kegirangan. Segenap pemain cadangan Brasil berlari memeluk Coutinho.

Para penonton mau meluk enggak bisa karena tak boleh masuk ke lapangan. Apalagi penonton yang ada di rumah, mau peluk Coutinho lebih tidak bisa lagi. Mau peluk siapa kalau nontonnya cuma sendiri, paling-paling peluk TV.

Bahkan pelatih Tite yang berlari merayakan golnya sampai tersungkur terjerembab yang enak banget buat diketawai dan di-bully. Sayangnya orang tua, jadi mau ketawa juga enggak enak.

Setelah dilihat-lihat tayangannya, ternyata dia mendapat dorongan dari kiper cadangan Ederson sehingga dia terjatuh akibat kehilangan keseimbangan. Namun, wasit tidak memberikan pelanggaran apalagi berbuah penalti. Ederson juga tak diberikan kartu.

Tite juga tidak marah walau didorong begitu, tapi malah senang. Ederson juga nyengir saja kayak koruptor ketangkep KPK.

Menang 1-0 pada menit 90-an sepertinya sudah cukup buat Brasil. Tapi ternyata belum cukup. Masih ada waktu beberapa menitan buat Rika untuk menyamakan kedudukan.

Namun mental Rika drop banget dibobol menit-menit segitu. Akibatnya mereka lengah lagi, dan kali ini Brasil menambah keunggulan pada menit ke-96.

Casemiro memberikan bola asyik kepada Douglas Costa, yang kemudian diteruskan lagi kepada Neymar yang rambutnya kayak mie goreng. Bola tinggal dicebok saja tanpa menggunakan gayung, bola pun bersarang di gawang Navas.

Peluit akhir membuat Kosta Rika tersingkir, sedangkan Brasil masih punya Serbia sebagai  raja terakhir. Kosta Rika menangis, pemain Brasil juga ikutan menangis.

Yang menangis itu bernama Neymar, entah kenapa menangis padahal menang. Tapi sepertinya dia menangis kepuasan. Puas karena akhirnya bisa menang setelah frustrasi sepanjang 1,5 jam.

“Babak pertama sungguh sulit. Tapi di babak kedua, kami tak bisa berbuat apa-apa lagi. Anda kami kesulitan di dua pertandingan pertama ini, sederhana saja itu karena ini ajang Piala Dunia,” ucap Tite di-copas Detik. 

“Semua orang sangat emosional. Saya berpaling ke sudut dan menunggu adrenalin tenang. Saya bahkan tidak melihatnya Neymar menangis. Saya kira, kebahagiaan, kepuasan dan kebanggaan mewakili Brasil sangat besar. Neymar punya tanggung jawab, suca cita, tekanan dan keberanian untuk menunjukkannya,” sambung Tite kali ini dikutip Goal. 

Tapi jangan senang dulu. Brasil mesti menghadapi Serbia yang baru saja dikalahkan Swiss 1-2. Kalau saja mereka kalah dari Serbia, sudah pasti harus pulang lebih cepat tanpa selfie-selfie. 

https://twitter.com/ugly_saudah/status/1010159961819754497

Main photo: @BrazilStat

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here