Oleh: Labieb Sadat

Mendengar kata Juventus pasti banyak pencinta sepakbola dunia yang mengetahui bahwa itu adalah salah satu nama klub tersohor di daratan Italia dan Eropa. Namun, siapa sangka Juve yang pernah terjerembab ke Seri B gara-gara skandal Calciopoli yang bikin heboh itu, sekarang dapat kembali disegani di kancah Eropa?

Juve mungkin memegang prinsip “biar tekor asal tersohor”. Pasalnya, sudah banyak uang yang dikeluarkan “Si Nyonya Tua” untuk mengembalikan nama baik klub bernuansa putih-hitam kayak TV zaman dulu itu.

Pasti masih ingat di ingatan para pencandu bola soal kasus yang menimpa Juve pada medio 2006 yang juga menyeret Lazio, Fiorentina, serta AC Milan yang akrab disapa ‘Calciopoli’. Bukan cuma sekadar degradasi hukumannya, tapi juga citra buruk dialamatkan kepada Juve saat itu, dianggap bermain curang untuk menjadi juara.

Kasus Calciopoli sebenarnya tidak sampai pada di situ. Sempat menyeret Inter dan Roma bahwa kasus “mengakrabkan” diri kepada wasit juga terjadi pada dua klub tersebut. Namun, persidangan akhirnya menutup kasus itu pada 2011, menganggap kasusnya sudah basi karena sudah lewat dari lima tahun.

Itulah yang bikin Juve geram bukan kepalang. Bukan rugi soal citra dan juga piala, tapi juga kehilangan banyak uang karena sponsor yang tiba-tiba ogah bekerja sama dengan Juve karena cap curang tersebut.

Namun, perlahan tapi pasti, Juve mulai mengembalikan tahtanya. Jelas tak semudah Awkarin menjadi terkenal. Tentu memakan waktu cukup lama untuk menjadi seorang juara Italia lima kali berturut-turut, bahkan mau enam. Totalnya mencapai 34 (yang dua dicabut FIGC), menjadikan Juve sebagai tim terbanyak pemegang tahta Scudetto.

Selain Scudetto, Juventus juga terbanyak meraih Coppa Italia atau Piala Italia sebanyak 11 kali. Bahkan mereka berhak mendapat bintang perak, atau tanda yang berhak dipakai oleh sebuah tim jika menjuarai 10 Piala Italia.

Begitu juga dengan kembalinya Juve di Eropa yang sempat jadi finalis sebelum akhirnya dijadikan rempeyek oleh Barcelona. Namun, musim ini asa mereka masih menyala usai mengalahkan Porto dengan penuh keyakinan dan kasih sayang.

Hanya satu musim di Serie B, Juventus langsung promosi ke habitat mereka di Top Flight Serie A. Tapi sayang penampilan angin-anginan kayak tukang gorengan yang kadang ada kadang tak ada itu cuma menempatkan mereka di posisi ketiga dan kedua pada 2008 dan 2009.

Prestasi klub berjuluk Si Nyonya Tua ini menurun pada dua musim berikutnya. Peringkat tujuh jadi hobi, bahkan sampai dua kali. Pelatih datang silih berganti, entah menghabiskan berapa purnama. Dari zaman Claudio Ranieri sampai Luigi Delneri. Tapi tetap saja, Edi Tansil alias Ejakulasi Dini Tanpa Hasil.

Titik balik prestasi Juve muncul pada awal musim 2011, setelah pihak klub meresmikan Juventus Stadium yang berkapasitas 41.550 penonton. Stadion itu jadi milik sendiri, pertama di Italia yang punya stadion sendiri. Bukan sekadar ngontrak atau ngekos.

Berbekal biaya 155 juta euro, atau Rp 2,2 triliun yang merupakan duit semua bukan bercampur daun, mampu mengubah penampilan dan kemasan Juve. Ditambah pembelian jitu Arturo Vidal, Stephan Lichtsteiner, Andrea Pirlo secara gratis, serta menunjuk Antonio Conte sebagai pelatih telah membuahkan hasil yang keren.

Bermodal 23 kemenangan serta 15 hasil seri dari 38 pertandingan menjadi rangkuman perjalanan “Nyonya Tua” musim tersebut. Scudetto yang didambakan selama beberapa tahun akhirnya mendarat di kota Turin pada akhir musim 2011/2012.

Poros kekuatan team yang mengandalkan kolektivitas serta kedalaman skuad yang memadai membuat skuat asuhan Conte mampu merajai Liga Italia, kemudian merebut supremasi selama tiga tahun berturut turut walau Conte mengundurkan diri akhir musim 2013/2014. Tetapi Juventus tetap kuat di bawah nahkoda baru yaitu Massimilliano Allegri yang didaulat sebagai suksesor Conte.

Rezim ‘Max’ Allegri dimulai tahun 2014. Mendapat cibiran keras karena dianggap tidak akan tanggap melanjutkan sukses Conte. Tetapi omongan para warga dan tetangga tersebut mampu terbantahkan. Scudetto 2015, Coppa Italia, serta Finalis Champions League menjadi pembuktian sang pelatih pada musim pertamanya.

Mengandalkan semangat khas Juventus yang disebut Grinta membuat para pemain, manajemen serta supporter memberikan kredit plus kepada sang pelatih. Walau ditinggal beberapa pilar macam Pirlo, Vidal, Carlos Tevez serta yang terbaru hengkangnya Alvaro Morata (Real Madrid) dan Paul Pogba (Manchester United) tetapi hal tersebut tidak akan berpegaruh banyak karena pondasi tim yang kuat sudah dibangun selama satu dasawarsa terakhir.

Namun, bukan cuma soal strategi dan taktik yang jadi faktor keberhasilan Juve. Perlu dilihat total dana yang dihabiskan Andrea Agnelli selama enam musim terakhir. Ada yang tunai, tapi ada juga yang cicilan macam kredit motor.

Musim 2011/12, Juve mengeluarkan 90,75 juta euro untuk mendatangkan lebih dari 10 pemain. Yang banyak investasinya adalah Alessandro Matri (15,5 juta), Mirko Vucinic (15 juta), Vidal (10,5 juta), Fabio Quagliarella (10,5 juta), Stephan Lichtsteiner (10 juta), dan Eljero Elia (9 juta) yang cuma dimainin sedikit banget.

Musim 2012/13, masih lebih sedikit dari sebelumnya, yakni hanya sekitar 50 jutaan euro untuk mendatangkan Kwadwo Asamoah, Mauricio Isla, Sebastian Giovinco, dan mempermanenkan Martin Caceres serta Emanuele Giaccherini.

Musim berikutnya lebih sedikit lagi, cuma 23 jutaan saja untuk mendatangkan Carlos Tevez dan Angelo Ogbonna. Kemudian musim selanjutnya lagi, sedikit lebih banyak yakni 34 juta euro untuk merekrut Alvaro Morata, Luca Marrone, Patrice Evra, Roberto Pereyra, Stefano Sturaro, dan Romulo.

Pada musim lalu, baru lah keuangan Juve membengkak lagi untuk menjadikannya sebuah tim super. Mereka menghabiskan dana sekitar 121,5 juta euro untuk membeli Paulo Dybala (32+8 juta), Alex Sandro (26 juta), Mario Mandzukic (19+2 juta), Simone Zaza (18 juta), Hernanes (12 juta), serta beberapa pemain lainnya.

Penjualan Paul Pogba yang uangnya bisa dibuat traktir siomay se-Italia, lumayan mengimbangi neraca keuangan Juve. Namun, mereka belum puas cuma jual saja. Juve melakukan mega-transfer alias pembelian termahal sepanjang sejarah klub dengan membeli Gonzalo Higuain sekitar 90 juta euro. Itu belum termasuk Miralem Pjanic (32 juta) dan Marko Pjaca (23 juta). Total semuanya mencapai 148 jutaan.

Total duit yang dikeluarkan Agnelli dalam enam musim terakhir mencapai 433,25 juta euro. Tapi ingat, Agnelli tidak bekerja sendirian. Masa kepresidenan sebelumnya, Juve juga mendatangkan banyak pemain yang kadang sia-sia.

Sebut saja Diego (27 juta), Felipe Melo (25 juta), Amauri (22 juta), Milos Krasic (15 juta), Tiago (13 juta), Vincenzo Iaquinta (11 juta), Jorge Andrade (10 juta), Christian Poulsen (9,5 juta), sampai Sergio Almiron (9 juta), yang tak ada hubungan saudara dengan Ali Imron.

Namun, semua uang yang dikeluarkan Juve, dari pembelian pemain, bayar gaji, sampai pembangunan stadion, jelas bukan uang yang sedikit. Kalau hanya pembelian pemain dan pembangunan stadion, jumlahnya mencapai 750 jutaan. Kalau ditambah gaji, mungkin bisa semilyar dalam 10 tahun terakhir.

Itu juga belum termasuk biaya rebranding Juve yang baru saja mengganti logonya. Pergantian logo tak semudah mengganti celana kolor, tapi mengganti semua logo yang ada di fasilitas fisik, materi marketing dan publikasi, sampai juga urusan administrasi.

Pada prinsipnya, kalau mau sukses juga harus punya modal. Bukan cuma modal otak dan juga tampang, tapi juga uang. Biar ‘tekor’ asal kembali tersohor, itulah prinsip yang suka ada di masyarakat Indonesia.

Sekarang, Juve kembali punya peluang meraih treble. Scudetto sepertinya sudah di tangan kiri, tinggal butuh tangan satunya untuk menggenggam lebih kuat. Asal jangan tangan orang lain saja.

Coppa Italia, kakinya sudah selangkah masuk final. Tapi mereka wajib berhati-hati karena leg kedua harus bertandang ke Napoli meski ada keunggulan 3-1.

Yang berat ujiannya adalah Barcelona. Juve kurang beruntung harus berhadapan dengan tim yang dihuni pemain dari planet lain. Apalagi, Barca juga termasuk klub kaya yang banyak membelanjakan uangnya untuk membeli pemain.

Kita tunggu saja, sejauh mana Juventus bisa berjalan musim ini. Sekadar dapat Scudetto kah, atau bisa kembali menjadi juara Eropa yang sudah lama mereka idam-idamkan sejak zaman Orde Baru itu.

Main photo credit: Juventus.com


LabibLabieb Sadat

Hard-worker. Seorang penikmat sepakbola dan pecandu futsal, karena pada hakikatnya “Maka nikmat Tuhan mana lagi yang engkau dustakan?”

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here