Jose Mourinho harus merelakan keperkasaan mantan terindahnya, Chelsea tanpa Islan, ketika bersama gandengan barunya yang sekarang, Tottenham Hotspur. Spurs dipaksa menyerah (lagi) 1-2 oleh “The Blues“.

Chelsea boleh dibilang kenangan terindahnya Mou, selain Inter yang bergelar treble pastinya. Namun, Chelsea lah yang mengorbitkan namanya menjadi pelatih kelas dunia seperti sekarang.

Saat kembali ke Inggris, kali ini bersama Spurs, Mou rupanya masih belum tega mengalahkan mantannya itu. Chelsea yang berkostum biru macam tutup air galon itu “dipersilakan” menang lagi, sampai dua kali. Pada pertemuan pertama, Spurs juga dikalahkan Chelsea 0-2. Hobi.

Perlu usaha percobaan sampai tiga kali untuk bikin Chelsea unggul di laga ini. Baru berjalan 14 menit, gawang Hugo Lloris sudah dibombardir.

Olivier Giroud yang rambutnya disisir rapi tanpa ketombe malam itu melakukan percobaan pertama tapi bisa ditepis kaki Lloris. Bola muntah dihajar Ross Barkley tapi kena tiang. Muntahannya balik ke Giroud lagi dan kali ini bisa masuk ke gawang. Mau cetak gol saja rasanya capek banget.

https://twitter.com/ODDSbible/status/1231285471227060224

Chelsea menggandakan keunggulan di babak kedua lewat tendangan silang mendatar Marcos Alonso. Sebuah gol yang cukup bagus meski mudah jika dilakukan di game FIFA.

Spurs baru bisa mencetak gol penting enggak penting di penghujung laga. Itu juga berkat bantuan Antonio Ruediger yang membelokkan arah bola.

Skor 2-1 sudah cukup lah buat Chelsea untuk bawa pulang tiga poin sekadar mengamankan posisi empat besar.

Mourinho pun menerima kekalahan ini dengan lapang dada. Meski masih saja menggerutu. Ya, Mou ternyata mengeluh kalau kekalahan ini karena disebabkan minimnya jasa striker mereka.

Spurs memang sedang krisis penyerang karena Harry Kane dan Son Heung Min tengah cedera. Alhasil, dia terpaksa menjadikan Steven Bergwijn dan Lucas Moura yang posisinya sebagai sayap, bukan paha atas, dijadikan striker.

Absennya Kane bikin Tottenham kehilangan sosok penahan bola di depan, sementara cederanya Son bikin mereka tak punya sosok yang jeli melakukan tusukan dan bermain posisi. Secara penampilan, Mourinho menilai timnya bermain cukup baik namun tak punya dimensi ekstra saat menyerang. Begitulah kira-kira analisanya dikutip dari detik.com.

“Di tahap terakhir laga ketika Chelsea takut di kedudukan 2-1, kami tak punya presensi di kotak penalti lawan, tidak ada kekuatan untuk diandalkan di sana, kami tak punya aspek itu untuk bisa melakukan lebih banyak hal lagi,” katanya.

Yang menarik, Mourinho rupanya ogah berjabat tangan dengan mantan anak asuhnya, Frank Lampard. Setelah peluit panjang berbunyi, dia langsung masuk ke ruang ganti. Lampard sempat mengejarnya, bukan untuk memberinya coklat atau bunga karena masih suasana Valentine, tetapi untuk berjabat tangan.

Sayangnya Lampard ditolak. Gugurlah niat baik pemuda generasi X tersebut. Kasihan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here