Brasil memastikan diri sebagai tim kelima yang akan bermain di babak perempat final Piala Dunia 2018. Keberhasilan tersebut diraih setelah bersusah payah menghentikan perlawanan dari Meksiko dengan skor 2-0 yang baru tercipta pada babak kedua.

Ketidakhadiran Marcelo di posisi bek kiri sedikit banyak berpengaruh pada permainan Brasil. Pada pertandingan sebelumnya memang kreatifitas serangan Brasil banyak dimulai melalui sisi kiri atau kanan permainan. Kalau dimulai dari belakang gawang sulit soalnya.

Bermainnya Filipe Luis yang menggantikan Marcelo belum mampu untuk menyamai kualitas permainan bek Real Madrid itu. Andai Marcelo yang bermain, mungkin Brasil bisa lebih cepat mencetak gol.

Lebih bagus lagi jika Roberto Carlos yang dimainkan karena bisa dipasang sebagai striker. Sayang saja sang pemain sudah tidak pernah dimainkan sejak beberapa tahun silam.

Filipe Luis lebih banyak fokus untuk bertahan dan masih malu-malu tapi mau untuk membantu serangan. Barulah setelah Felipe Luis mulai maju membantu serangan, pertahanan Meksiko mulai kocar-kacir macam razia warung remang-remang oleh Satpol PP. Hal tersebut terlihat setelah setengah jam pertandingan berjalan di mana Brasil mulai balik menguasai pertandingan.

Meski begitu pilar terakhir Meksiko yang bernama Guillermo Ochoa masih lumayan tangguh untuk menahan gempuran para pemain. Kiper Standard Liege ini bekerja keras bagai kuda untuk menyelamatkan gawangnya. Meski begitu sepertinya ia tidak sampai lupa orang tua.

Kekalahan ini menjadikan Meksiko belum bisa menghapuskan mitos selalu gagal untuk menjalani putaran perdelapan final sejak dulu sekali.

Terakhir Meksiko melangkah ke babak perdelapan final saat Kurt Cobain masih sehat. Sebab sejak keikutertaannya dari tahun 1994 hingga sekarang mereka belum sekalipun lolos. Entah sampai kapan mitos gagal ke babak delapan besar ini akan terus terjadi.

Pada awal laga sendiri Meksiko sempat merepotkan barisan pertahanan Brasil. Ditukarnya posisi Hirving Lozano dari posisi kiri ke posisi kanan, membuat Filipe Luis lebih fokus untuk bertahan. Maklum kecepatan sang pemain lumayan berbahaya yang terbukti pada saat pertandingan melawan Jerman.

Selama 20 menit pertama, Meksiko sempat menguasai jalannya pertandingan meski tidak memberikan ancama yang cukup berarti bagi gawang Alisson Becker. Untung saja kecepatan Carlos Vela dan Lozano masih bisa dibendung barisan pertahanan Brasil. Kalau yang bertahan barisan para mantan sudah pasti bobol itu gawang Alisson.

Serangan Brasil yang semakin gencar pada babak kedua masih bisa untuk dihalau oleh Ochoa. Namun seperti pepatah mengatakan “sepandai-pandainya tupai melompat, pasti ujung-ujungnya jalan juga”, Ochoa akhirnya kebobolan pada menit ke-51.

Berawal dari Willian, tiba-tiba winger Chelsea itu melakukan akselerasi ngebut macam RX King di gaspolremblong. Tusukannya ke dalam kotak penalti kemudian diteruskan dengan umpan mendatar ke depan gawang.

Neymar dan Gabriel Jesus kemudian melakukan sliding shoot bareng mungkin mau mengikuti gaya Tachibana bersaudara. Namun akhirnya Neymar yang mendapatkan bola tersebut. Brasil unggul 1-0 atas Meksiko.

Meksiko yang berusaha menyamakan kedudukan malah kembali kebobolan di menit-menit akhir. Roberto Firmino yang baru masuk lapangan selama dua menit langung mencetak gol.

Bola tendangan Neymar yang membentur kaki Ochoa, sialnya bergulir ke depan gawang. Firmino tanpa kesulitan menyontek bola karena tidak ada juga guru pengawas. Pertandingan berakhir dengan kemenangan Brasil 2-0 atas Meksiko.

Meski kalah, pelatih “El Tri” yaitu Juan Carlos Osorio menilai timnya telah bermain cukup baik. Hanya kualitas di lini depan saja yang menurutnya membuat perbedaan.

“Mampu bermain di level seperti ini dengan tim seperti Brasil, itu menunjukkan Meksiko adalah tim yang bagus. Kami cuma tak punya kualitas ekstra seperti mereka di depan gawang,” kata Osorio dikutip dari Detik.

Sementara Tite mengungkapkan bahwa Brasil menang sebab lebih memiliki skuat yang rata dari lini depan hingga belakang. Belum lagi mental juara dunia yang selalu ada di hati para pemain tim Samba.

“Saya menganggap karakteristik terkuat dalam tim kami adalah keseimbangan. Itulah yang membuat kami meraih hasil positif,” papar Tite dilansir dari Liputan6.

Brasil masih ditunggu lawan berat di fase selanjutnya di mana mereka akan berhadapan dengan Belgia yang mengalahkan Jepang.

Main photo: XH Sports

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here