Dari sekian banyak tim bintang di Piala Dunia, cuma Belgia yang mampu menang meyakinkan. Meski lawannya cuma Panama yang baru pertama kali masuk Piala Dunia, tim berjuluk “The Red Devils” ikut-ikut Manchester United itu menang telak 3-0.

Sebetulnya di babak pertama Belgia kesulitan buat bikin gol sebanyak itu. Trio Romelu Lukaku, Dries Mertens, dan Eden Hazard yang main threesome tak mampu menjebol kiper Panama yang dikawal Jaime Penedo.

Beberapa kali usaha mereka masih kurang giat, tak seperti lulusan SMA yang mau masuk PTN. Tendangan melengkung Mertens di babak pertama mampu digagalkan lewat sebuah tepisan gemilang sambil melompat oleh Penedo.

Mungkin para pemain Belgia ini merasa jiper karena Penedo wajahnya mirip Gianluigi Buffon. Meski kualitasnya masih kalah jauh, tapi Buffon KW di laga ini terbilang cukup lumayan.

Lalu peluang satu lawan satu Penedo dengan Lukaku masih mentok. Tendangan Hazard dari sudut kotak penalti juga masih dimentahkan pakai tangan. Itu baru pakai tangan, bukan pakai hidung atau mata. Kalau semua anggota tubuhnya digunakan bisa-bisa Buffon KW lebih hebat dari Buffon asli.

Lalu bek sekaligus kapten berambut meranggas, Roman Torres, setidaknya dua kali melakukan intercept alias memotong umpan Belgia di depan gawang tanpa menggunakan pisau.

Sayangnya, Buffon cuma menurunkan level dewanya kepada Penedo hanya di babak pertama. Di babak kedua, Penedo yang hobi memakai sarung tangan saat bermain itu langsung bobol tiga gol.

Bukan karena sundulan otak kanan Lukaku yang bikin keren, melainkan umpan efek jahe dari Kevin de Bruyne yang tak rugi jika melihatnya. Hal itu bikin bingung para pemain Panama yang namanya pada kurang terkenal macam Blas Perez, Anibal Godoy, Edgar Barcenas, sampai pemain yang namanya mirip gembong narkoba, Fidel Escobar.

Selang enam menitan, Lukaku kembali cetak gol. Kali ini dapat operan micin dari Hazard dan langsung dicongkelnya itu bola melewati Penedo. Skor 3-0 bikin Panama harus tertunduk lesu.

https://twitter.com/brfootball/status/1008768486712233984

 

 

Pelatih Roberto Martinez sangat senang dengan hasil ini. Menurutnya, para pemain Belgia ini memiliki kedewasaan buat bermain. Itu artinya para pemain sudah tidak childish lagi karena mereka memang sudah tumbuh dewasa. Dari segi mental para pemain tampak tenang dan bijak dalam menyikapi lawan.

“Saya senang dengan hasil ini. Itulah yang kami harapkan, tidak ada pertandingan mudah di Piala Dunia. Para pemain berhasil menunjukkan kedewasaan dan kebersamaan yang nyata,” kata Martinez.

Sebaliknya tim Panama malah bangga dengan kekalahan ini. Rada aneh memang, di mana-mana kalah itu sedih. Tapi Panama malah bangga, mungkin semakin banyak gol semakin bangga. Memang tak mudah membiarkan lawan mencetak gol ke gawang sendiri.

Namun yang dimaksud pelatih Hernan Dario Gomez bangga adalah karena mereka tak kebobolan lebih banyak dari itu. Kebobolan tiga gol sudah bagus, tak sampai tujuh, sembilan, 13, bahkan 20. Mereka cenderung bersyukur apalagi ini merupakan laga pertama mereka di Piala Dunia. Wajar kalau masih canggung dan demam panggung.

Malah jauh lebih baik dari Arab Saudi yang sudah beberapa kali main di Piala Dunia, dibantai 0-5 oleh Rusia. Lawannya Rusia pula, peringkat di bawah-bawah kontestan Piala Dunia.

“Mengerikan jika mereka mencetak gol lebih banyak. Tak ada yang suka kalah, tapi ini adalah normal. Ada orang yang berpikir kami kebobolan sampai tujuh gol,” ucap Gomez.

 

 

Main photo: Squawka

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here