Oleh: M. Alfin Firdiansyah

Datang sebagai penantang utama di gelaran EURO 2020/2021, Timnas Belgia a.k.a Les Diables Rouges (artinya cari sendiri di mbah) bisa dibilang memiliki kans yang cukup menjanjikan untuk bisa menjadi kampiun di Euro Cup kali ini.

Bertaburkan para pemain bintang, kalau bertaburkan wijen namanya onde-onde, Roberto Martinez sang “Bapak” dari Kevin De Bruyne cs mungkin sepertinya merasa bangga mempunyai pemain-pemain yang bisa dibilang kelas Premium.

Belum lagi, hadir sebagai tim berperingkat wahid menurut FIFA hingga saat ini, kesebelasan yang pertama kali manggung di pentas Euro pada tahun 1972 ini mempunyai bekal yang bisa dibilang cukup untuk bisa berbicara banyak di kompetisi versi pandemi ini.

Romelu Lukaku genks mencetak total 40 gol di babak kualifikasi EURO 2020/2021 dari total 10 laga yang disapu bersih semuanya dengan kemenangan. Gila gak, gila gak, gila gak?! Gila lah masa enggak.

Wajar jika mereka menjadi tim pertama yang lolos ke putaran final Euro 2020.

Tapi setidaknya mereka masih mengikhlaskan 3 gol yang masuk ke gawang Thibaut Courtois. Mungkin biar tidak dibilang pake cheat atau gameshark. “Eh guys, jangan jago-jago amat lah, kasih lawan gol 3 aja ok!” mungkin begitu lirih Roberto Martinez kepada Lukaku cs yang disambut gelak tawa.

Balik lagi ke EURO Cup!

Belgia ini sekarang sepertinya lupa rasanya kekalahan. Tiga laga di fase grup dibabat habis semuanya dengan poin penuh. Diteruskan dengan membuat sang “GOAT” CR7 ngambek ketika tim yang dikapteninya berhasil ditaklukkan di ronde 16 besar.

Tapi yang namanya hidup ya, harus ingat pepatah orang tua (bukan amer). Semakin tinggi posisi kamu berada, maka semakin besar gajinya, eh maksudnya semakin besar angin yang menerpa.

Nah oleh sebab itu, Roberto Martinez sepertinya harus mulai mawas diri mulai saat ini, karena lawan berikutnya di babak delapan besar tak lain dan tak bukan adalah pasukan Gli Azzurri alias Italia.

Tak kalah digdayanya dengan Belgia, anak asuh Roberto Mancini juga mempunyai pedang panjang, kalau berjalan prok prok prok. Serius nih, Mancini berhasil mengantarkan negaranya melaju ke EURO kali ini dengan catatan impresif. Invicible di semua laga grup J babak kualifikasi. Dilanjutkan dengan mengemas poin paripurna di fase grup EURO 2020/2021.

Walau sempat “pura-pura” kesusahan sewaktu kontra Austria, pasar sepertinya masih cukup menjagokan Locatelli dkk sebagai kandidat juara di kompetisi musim panas ini.

Final dini? Bisa iya bisa enggak.

“Golden Generation” yang sekarang disematkan ke Belgia saat ini sejatinya akan diuji saat versus negeri romawi nanti. Walau duduk nyaman di singgasana FIFA saat ini, Belgia rasanya pantas diberi julukan “Sang Jawara Tanpa Mahkota”. Kok sabi? Sabi lah.

Sebagai salah satu negara gegedug sepakbola di daratan Eropa, Belgia belum pernah sekalipun meraih major trophy di turnamen resmi. Paling mentok ketika mereka menjadi juara ketiga di Piala Dunia 2018. Walau saya heran kenapa posisi tiga harus dibilang juara juga. Tapi ya sudahlah.

Di level benua biru, negara yang memiliki federasi Royal Belgian Football Association ini hanya pernah mencicipi satu kali laga final, yaitu di tahun 1980. Itu pun harus kalah dari Jerman Barat yang belum ada Thomas Mullernya.

Lain hal dengan sang calon lawan nanti, Italia. Kalo urusan ngangkat-ngangkat piala, negeri asal Vespa ini sudah paham banget tak usah pakai diajari. Terbukti dengan 4 trofi Piala Dunia dan 1 trofi di kancah Eropa sudah mejeng di lemari federasinya.

Belum lagi kalau melihat sejarah pertemuan antar dua negara yang jaraknya sekitar 1.100 km kalau ditarik garis lurus, kalau tidak percaya bawa meteran saja sendiri, Italia sudah bosan sepertinya dengan jumlah kemenangan sebanyak 14 kali. Walau sempat remis 4 kali dan keok 4 kali juga.

Terakhir, dua tim ini bentrok di turnamen yang sama di tahun 2016 kemarin. Hasilnya, Italia masih terlalu jago buat Belgia. Romelu Lukaku yg waktu itu masih lucu-lucunya enggak dikasih gol sama sekali. Malahan gawang Thibaut Coutois yang “digagahi” oleh Emanuele Giaccherini dan Graziano Pelle.

Dan sekarang, Italia dengan bekal yang dijinjingnya rasanya sudah lebih dari siap untuk kembali menguji mental si anak emas di kompetisi kali ini. Apalagi dengan De Bruyne dan Eden Hazard yang diragukan apakah bisa main atau tidak karena cedera saat lawan Portugal, membuat Martinez harus putar otak dan “memecut” anak didiknya saat laga nanti.

EURO tahun ini akan menjadi panggung pembuktian, apakah Belgia mampu membuat semua warganya berpelukan haru biru dengan meraih status juara. Atau memang mereka belum siap dilabeli sebagai penguasa Eropa.

Sekaligus mencari tau Roberto mana yang benar-benar Roberto. Apakah Roberto Mancini atau Roberto Martinez?

Sudah gitu aja, saya lelah. Rajin amat baca sampe bawah.


M. Alfin Firdiansyah
Karyawan medioker yang suka bercanda sebagai pelepas gundah gulana dan suka nulis sekenanya aja.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here