Lapangan becek tak ada ojek menjadi saksi Indonesia menuai kekalahan dari Kirgizstan. Bermain dibawah kondisi hujan menyertai, Indonesia gagal menjuarai Aceh World Solidarity Cup. Gol kemenangan Kirgizstan dicetak Saliev Asrkabek.

Kekalahan ini tentunya disoroti pelatih kepala tim nasional Indonesia, Luis Milla. Pelatih yang fasih berbahasa Spanyol sejak kecil itu menganggap pemain Indonesia tidak dapat memanfaatkan peluang untuk menciptakan gol.

Padahal, cetak gol itu kan sangat mudah sekali. Tinggal oper-operan bola, lalu tendang ke gawang. Toh gawangnya juga lebar dan cuma dijaga satu kiper, lain hal kalau dijaga 10 kiper.

Tapi ya kalau bicara memang semudah membalikkan telapak tangan. Apalagi setelah itu tangannya dimasukan ke knalpot motor. Gemas rasanya.

“Mereka punya pemain yang sangat tangguh di areanya, tinggi besar dan bertahan sangat baik. Ketika menyerang mereka bisa melukai kita. Kami menghadapi lawan yang kuat, maka kami harus mencari solusi yang lebih cepat. Dalam beberapa kesempatan kita bisa menyerang mereka, tetapi tidak bisa terjadi gol,” ujarnya pascalaga.

Tertinggal satu gol di babak pertama Luis Milla, sempat melakukan perubahan taktik, bermain lebih ofensif di babak kedua. Dia menyanjung semangat dan kerja keras yang telah dilakukan anak asuhnya di atas lapangan sampai akhir pertandingan meskipun belum memperoleh hasil maksimal.

“Kami melakukan dua pergantian ofensif, kita mencoba untuk menekan dan disitulah saya rasa mental mereka sangat kuat. Mereka pantang menyerah mereka dan tidak ada satu pemain pun yang saya lihat di lapangan, menurunkan tangannya atau menyerah. Sampai detik akhir kita selalu percaya kita bisa memenangkan pertandingan,” sambungnya.

Meskipun tidak berhasil menjuarai Aceh World Solidarity Cup, Milla berharap mendapatkan hikmahnya dari adanya turnamen tersebut. Salah satunya dapat melihat perkembangan para pemainnya untuk persiapan ASIAN Games. Ya, memang salah satu tujuan turnamen ini untuk disiapkan pada ASIAN Games.

“Saya senang dari pertandingan hari ini kita mendapatkan banyak analisis (kekurangan) karena ini seperti laga final ada tekanan di sana. Saya merasa kita melakukan turnamen yang sangat bagus. Kita sudah mendapatkan apa yang kita inginkan dari pemain,” imbuh juru taktik berusia 51 tahun tersebut.

Belajar dari Aceh World Solidarity Games menjadi pekerjaan rumah Luis Milla melawan tim-tim yang mempunyai postur pemain yang bagus. Berkaca ke belakang, boleh pakai kaca spion atau menoleh langsung, kelemahan pemain Indonesia juga terlihat pada pertandingan melawan Suriah.

Apalagi pada saat nanti ketika ASIAN Games tentunya harus mewaspadai lawan dari kawasan Timur Tengah. Postur mereka memang segede-gede Gaban, berat buat postur Indonesia yang mungil-mungil kayak kuaci.

Makanya, timnas bakal menjajal Islandia di laga uji coba pada 11 Januari tahun depan. Para pemain Islandia punya postur rata-rata orang Eropa pada umumnya. Rambutnya pirang semua, enggak ada yang warna hitam apalagi merah muda atau fuschia kecuali diwarnai.

“Islandia kan masih jauh. Dan buat kami itu akan jadi pengalaman yang sangat berguna karena mereka merupakan tim dengan level permainan yang tinggi,” sambung Milla.

Meski begitu, Islandia belum bisa dipastikan menurunkan skuat terbaiknya. Pasalnya, pada tanggal tersebut kompetisi liga di Eropa sedang berlangsung. Besar kemungkinan bintang-bintang Liga Primer tidak diizinkan oleh klubnya, apalagi laga Indonesia-Islandia tak ada dalam agenda FIFA.

Ya lumayan lah, bisa ketemu orang Islandia yang ganteng-ganteng itu. Meski cuma skuat lapis kedua.

Main photo: Nobar TV

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here