Sebuah kisah menyenangkan nan mengharukan dialami Lukas Podolski bersama tim nasional Jerman. Pemain berjuluk “Prince Poldi” itu menutup kariernya di timnas dengan dua buah judul lagu: ‘Sempurna’ (Andra & The Backbone) dan ‘Begitu Indah’ (Padi).

Jerman melakoni laga pertemanan dengan Inggris di Stadion Signal Iduna Park. Laga tersebut jadi laga perpisahan Podolski yang sudah memutuskan pensiun dari timnas sejak Agustus tahun lalu.

Podolski sebenarnya masih berusia terbilang muda untuk pensiun dari timnas, yakni baru 31 tahun. Dia masih bisa bermain dua-tiga tahun lagi, apalagi cukup tanggung karena tahun depan masih ada Piala Dunia 2018, bisa jadi Piala Dunia-nya yang keempat dalam kariernya.

Total caps-nya mencapai 130 pertandingan. Jadi yang ketiga terbanyak setelah Lothar Matthaeus (150 caps) dan Miroslav Klose (137 caps). Dia bisa saja melebihi jumlah caps-nya Matthaeus, tapi rupanya dia tidak minat.

Berhubung sudah pernah merengkuh trofi Piala Dunia, mungkin dia ingin regenerasi. Masa iya yang main yang tua terus-terusan. Sudah saatnya yang muda yang bersinar. Podolski mengaku ingin fokus pada sisa-sisa kariernya serta memberikan perhatian lebih pada keluarganya.

Meski sudah memutuskan pensiun, timnas Jerman menyiapkan laga perpisahan untuknya. Fans Jerman bahkan menyiapkan koreografi spesial pakai tiga telur di stadion tersebut.

Bahkan, sekitar 30 ribu suporter dari Koeln menghadiri stadion yang terletak di Dortmund. Koeln merupakan klub pertama Podolski dalam memulai kariernya sebagai pesepak bola. Meski sempat pindah ke Bayern Muenchen, dia sempat kembali lagi selama tiga musim di Koeln sebelum hijrah ke Arsenal.

https://twitter.com/Betsafe/status/844665896509587456

Pertandingan berjalan cukup sengit karena kedua tim saling jual-beli serangan kayak di Pasar Jatinegara. Namun, laga tersebut seolah sudah diatur oleh Yang Maha Kuasa untuk menjadi pertandingan indahnya Podolski.

Podolski menjadi kapten, mencetak gol satu-satunya, dan memenangkan timnasnya pada laga terakhirnya. Gol yang dicetaknya pun cukup indah. Setelah menerima umpan singkat dari Andre Schuerrle, cukup dengan beberapa sentuhan, Podolski melepaskan tendangan LDR dari jarak cukup jauh, khas dengan kaki kebot-nya.

Tendangan tersebut sangat menggelegar dan sentimental. Entah berapa kecepatannya, yang jelas kiper mana pun juga ogah menerima tendangan semacam itu. Joe Hart seolah cuma sekadar formalitas saja dalam melompat.

“Laga terakhir saya ini bagaikan sebuah film yang hebat. Kami menang 1-0 dan saya jadi pencetak golnya. Saya tahu saya punya keunggulan kaki kiri yang menjadi anugerah dari Tuhan. Saya bangga dengan 13 tahun karier saya di timnas,” ucap cowok berwajah ganteng lumayan itu, dikutip Soccerway. 

Gol tersebut merupakan gol ke-49 sepanjang kariernya di timnas. Dia jadi pencetak gol terbanyak ketiga bagi “Tim Panser” setelah Miroslav Klose (71 gol) dan Gerd Muller (68 gol).

Meski kariernya di klub naik-turun kayak lift di ITC, tapi kariernya di timnas selalu bersinar. Poldi memulai debutnya di Jerman pada 2004, seangkatan dengan Bastian Schweinsteiger dan Philipp Lahm. Dia jadi andalan timnas besutan Juergen Klinsmann di Piala Dunia 2006 dilanjutkan Joachim Loew sampai sekarang.

Podolski akhirnya mendapat trofi pertamanya di timnas setelah menjuarai Piala Dunia 2014 bersama teman-teman ABG-nya itu. Meski mulai jarang dijadikan starter, tapi kehadirannya cukup dibutuhkan untuk membimbing pemain-pemain muda. Seorang suri tauladan yang baik bagi para juniornya.

“Podolski selalu memperlihatkan sikap yang tepat. Dia selalu tersenyum dan sangat mencintai sepak bola. Dia selalu menunjukkan determinasi 100% di lapangan, baik ketika dipasang sejak menit awal maupun sebagai pengganti. Dia selalu membawa pola pikir positif untuk tim dan memperlakukan semua orang dengan hormat,” ujar Loew, dikutip dari Juara. 

Bikin Iri

Laga perpisahannya yang luar biasa itu juga bikin iri rekan setimnya, Thomas Mueller. Poldi mencetal gol di laga terakhir dan dapat sambutan meriah. Pertandingan terakhirnya begitu indah dan sempurna.

Muller mengaku berpesan pada Toni Kroos untuk menservis Podolski di kotak penalti. Namun, skenario itu susah-susah gampang. Tak semudah Awkarin jadi terkenal. Nyatanya, Podolski malah mencetak gol dari tendangan LDR.

“Saya bilang ke Toni  sebelum pertandingan bahwa kami harus menempatkan Lukas di area penalti. Tapi Anda tak bisa menulis skenario lebih baik dari itu. Jika saya jadi direktur, saya kira itu terlalu mudah. Tak akan ada yang percaya bisa lakukan itu,” ucap Mueller dikutip Soccerway.

Lebih lanjut, Mueller juga menceritakan bagaimana fans memberikan sambutan hangat untuknya, sehangat bodi DJ Butterfly. Penonton masih ingin tetap di kursinya untuk menyaksikan Podolski sampai menghilang dari peredaran.

“Biasanya stadion mulai sepi pada 10 menit setelah pertandingan. Tapi semua orang masih di sini, melihat bagaimana kami merayakan perpisahan Podolski. Luar biasa. Dia memang pemain spesial dan jarang-jarang. Anda sulit memainkan 130 pertandingan. Kami akan merindukan dia di kejuaraan-kejuaraan berikutnya,” katanya lagi.

Memang betul, semua begitu indah dan sempurna. Semua pemain pasti ingin seperti dirinya. Itu merupakan bukti kalau perilaku kita selalu baik ke semua orang, seperti diucapkan Loew. Apalagi, Podolski termasuk orang yang lucu, iseng, dan jahil sehingga disukai rekan-rekannya.

Selamat menempuh hidup baru, Prince Poldi!

Main photo credit: Twitter @Squawka

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here