Oleh: Harry Hardian

Liga Indonesia atau secara resmi disebut Liga 1 GO-JEK Traveloka (GO-LOK) telah memasuki pekan kesembilan. PSM Makassar bertengger di puncak klasemen dengan nyamannya. Mereka mengumpulkan 20 poin unggul selisih satu poin dari pesaing terdekatnya, Madura United.

Masih sangat prematur jika mengatakan bahwa PSM akan menjuarai Liga 1. Tapi melihat pola yang sudah-sudah di Liga Indonesia, hal tersebut mungkin saja bisa menjadi kenyataan. Wallahualam.

Melihat sejarah, PSM Makassar merupakan kekuatan sepakbola di belahan Indonesia Timur. Sempat agak menurun performa dan hampir terjun ke kasta kedua. Kemudian secara perlahan menjadi kekuatan untuk bersaing untuk meraih gelar Juara Liga GO-LOK edisi perdana.

Pastinya ada yang menjadi faktor kenapa PSM Makassar layak diperhitungkan untuk meraih gelar juara. Segala sesuatu pasti ada alasan, berikut alasan yang mungkin merupakan ke-sotoy-an penulis.

Pelatih PSM merupakan salah satu kunci sukses untuk mengorganisasikan sebuah klub yang kuat. Ya dia lah, Robert Rene Alberts, pelatih berkebangsaan Belanda yang tak melupakan leluhur gaya permainan sepakbola Belanda, total football. Permainan PSM yang atraktif, tampil menyerang, dan gesit selalu dipertontonkan oleh skuat besutan Alberts.

Kemudian, lini tengah terlihat sangat mumpuni dengan hadirnya duo Belanda, Wiljan Pluim dan Marc Klok. Keduanya mampu menjadi dirigen yang baik, sebagai kunci dan roh permainan dalam mengatur serta memainkan ritme pemain yang diinginkan pelatih.

Kesamaan visi, misi, dan strategi antara pemain dan pelatih yang mampu diterjemahkan dengan baik di atas lapangan. Apalagi, kedua pemain dan pelatih PSM saat ini berasal dari negara yang sama, negara yang menjajah Indonesia ratusan tahun lamanya.

Pluim dibiarkan bebas berkreasi menunggu umpan matang dari Klok. Seorang playmaker yang mampu membuka ruang serta umpan tusukan yang mumpuni. Tipikal playmaker yang tak sekadar menjadi pemain nomor 10 tradisional yang hanya berdiri di belakang penyerang. Mengingatkan kita pada sosok Ronald Fagundez ketika bermain di PSM tempo dulu.

Faktor playmaker memang menjadi penentu bagi klub Indonesia. Nama-nama seperti Zah Rahan, Makan Konate, Ronald Fagundez, Danilo Fernando, dan Luciano Leandro berhasil membawa gelar juara. Sekarang bagi tim “Juku Eja”, Pluim bertanggung jawab menanggung peran tersebut.

Piawai mengorbitkan pemain muda merupakan poin plus bagi Alberts. Bibit muda potensial Indonesia timur kelihatan tampak hidungnya, bagai jamur di musim penghujan, bagai followers Awkarin yang banyak bermunculan tiap post-nya.

Sebut saja Asnawi Mangku Alam, Reva Adi Utama, Ridwan Tawainella, dan Wasyiat Hasbullah. Bahu membahu mengangkat PSM menuju prestasi tertinggi di kancah persepak bolaan Indonesia. Melihat pasukan klubnya si Ramang ini sekarang tampak lebih bergairah, kolaborasi apik berhasil dipertontonkan pemain muda dan senior setiap kali pertandingan.

Hal ini mengingatkan kita pada Arema Malang, Alberts mampu mengangkat pemain muda seperti Kurnia Meiga, Ahmad Bustomi, Beny Wahyudi, Sunarto, dan Dendi Santoso. Dengan tangan dinginnya, pemain-pemain muda tersebut mampu menjadi tulang punggung permainan sebuah tim.

Bukan lagi anak muda yang gemar bonceng tiga dan kebut-kebutan di jalan raya. Itulah mengapa, pengalaman Alberts di Indonesia jangan lagi dipertanyakan, karena mampu memberikan gelar juara bagi Arema.

Mengarungi panjangnya kompetisi pastilah diperlukan kedalaman skuad yang mumpuni. Sektor gelandang tengah pun banyak pemain berkelas, mantap dan berbakat, Klok, Pluim, Rizky Pellu, Rasyid Bakrie, Syamsul Chairuddin, Asnawi, dan Muhammad Arfan.

Lini depan juga tidak ketinggalan, Ridwan dan Muhammad Rachmat yang mempunyai prospek mumpuni. Ditambah dengan Titus Bonai, Ferdinand Sinaga, dan Reinaldo Elias da Costa mampu memberikan banyak pilihan tergantung skema yang diinginkan.

Serta pemain belakang yang tak kalah garang dan sarat pengalaman, seperti Hamka Hamzah, Ardan Aras, Steven Paulle, dan Zulkifili Syukur. Semuanya mampu mengkoordinasi lini pertahanan dengan sangat baik.

Memang diperlukan konsistensi dalam meraih gelar juara yang terakhir diraih PSM pada tahun 2000. Dengan skuat yang ada dan pelatih yang mumpuni, bukan tidak mungkin PSM dapat meraih gelar Liga GO-LOK 2017. Sekian.

Main photo: Rakyatku Bola


Harry Hardian 2Harry Hardian

Penulis yang selalu diawali dengan kata mantan. Mantan pemain, mantan pelatih dan mantan seseorang.

2 COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here