Bayern Muenchen menasbihkan dirinya menjadi tim terkuat dan terbaik di dunia untuk level klub saat ini. Bukan cuma itu saja, mereka pun menyamai rekor sextuple yang pernah diraih Barcelona beberapa tahun silam.

Kepastian sextuple alias enam gelar dalam satu musim direngkuh Bayern usai menundukkan Tigres UANL 1-0 dalam laga final Piala Dunia Antar-klub.

Tidak banyak klub yang bisa menyapu bersih enam gelar sepanjang setahun, termasuk Bayern yang gagal menggapainya pada 2013. Saat itu Bayern tidak bisa juara Piala Super Jerman karena kalah dari Borussia Dortmund.

Sementara satu-satunya klub yang bisa meraih enam gelar sepanjang setahun adalah Barcelona pada 2009. Prestasi itu yang membuat Barcelona selalu dibicarakan oleh khalayak hingga saat ini.

Itulah mengapa, fans Barca kini tak bisa sombong lagi karena sudah tak lagi menjadi “satu-satunya”. Memang di dunia ini tidak ada istilah “satu-satunya”, kecuali matahari dan kamu. Fag.

https://twitter.com/brfootball/status/1359953664954236928

Bayern sebenarnya bisa mencetak gol di babak pertama setelah Joshua Kimmich yang wajahnya imut-imut bangsat bisa menjebol gawang Tigres. Tendangan dari luar kotak penalti cuma dipandangi saja oleh Handanovic KW lima.

Namun, sang kiper Nahuel Guzman yang bukan saudaranya Irman Gusman memprotes gol tersebut. Dia menilai gol Kimmich harusnya offside lantaran tendangan Kimmich menyasar ke Robert Lewandowski, dan Lewandowski melompat menghindarinya.

Setelah melihat VAR, wasit menyatakan offside. Lewandowski dianggap aktif posisinya karena melompat menghindari tendangan Kimmich. Kalau tidak melompat, bola Kimmich pasti mengenai Lewandowski dan berpotensi gagal gol.

Mungkin setelah ini Kimmich bete banget ke Lewandowski, gara-gara dia jadi tak muncul lah namanya di papan skor dan Wikipedia.

Di babak kedua, Lewandowski nyaris bikin bete temannya lagi. Kali ini Benjamin Pavard. Pavard mencetak gol usai mendapat bola muntah dari pukulan kiper Guzman yang berduel dengan Lewandowski.

Wasit sempat menganulir gol tersebut karena Lewandowski dianggap berposisi offside. Pavard nyaris saja bikin grup WA bareng Kimmich yang tidak ada Lewandowskinya.

Untung wasit maha pengasih dan maha penyayang. Dia mau melihat VAR, dan mengesahkan gol Pavard. Tapi ya gitu, berasa anti-klimaks saja di laga final begini golnya kurang selebratif.

Namun itu tidak penting. Yang penting Bayern bisa angkat piala dan ini merupakan sebuah karunia.

Selamat kepada tim saya, yang telah mencapai sesuatu yang bersejarah,” kata manajer berusia 55 tahun itu, dikutip dari Gilabola.

“Bahkan untuk klub sesukses Bayern, ini adalah musim terbaik yang pernah ada. Kami dominan dan pantas memenangkan final. Sebagai tim pelatih, kami sangat bangga dengan para pemain dan kami sangat senang. Luar biasa apa yang telah dicapai tim ini. Mentalitas di lapangan hari ini luar biasa.”

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here