Meski sudah paling banyak mengumpulkan gelar Copa del Rey, Barcelona rupanya masih ingin gelar Copa del Rey zaman jebot Real Madrid dicabut. Bukannya iri atau bagaimana, hal itu lantaran Barca bete dengan keputusan RFEF menolak tuntutan mereka sebelumnya.

Klub Catalan itu meminta PSSI-nya Spanyol (RFEF) mencabut empat gelar Copa del Rey yang dimenangkan Madrid pada 1905 sampai 1908. Pasalnya, pada periode di mana gerakan nasionalis Indonesia mulai berdiri seperti Serikat Dagang Islam dan Budi Utomo itu, kompetisi belum berada di bawah RFEF.

Permohonan ini diajukan salah satu anggota Barca, Joaquim Molins. Jika hal itu diterima, otomatis Athletic Bilbao yang menjuarai dua musim pertama Copa del Rey pada 1903 dan 1904 kemungkinan juga tidak sah.

RFEF memang baru berdiri pada 1909, atau 10 tahun sebelum berdirinya Nyonya Meneer yang terkenal itu. Itulah mengapa, Barca menuntut Copa del Rey yang bergulir sebelum berdirinya RFEF tidak bisa dianggap sebagai turnamen resmi. Mungkin cuma sekelas tarkam saja.

“Atas pertimbangan seperti itu, Copa del Rey yang bergulir sebelum RFEF dibentuk pada 1909 tidak bisa dianggap sebagai turnamen resmi,” ujar Collins, dilansir Sport, yang dikutip lagi dari Liputan6. 

Barca menjuarai Copa del Rey paling banyak sampai 28 kali dan tak ada bosannya. Sementara Athletic Bilbao berada di urutan kedua dengan 23 kemenangan. Sedangkan Madrid cuma 14 kali saja.

Lucunya, Barca hanya menuntut gelar Madrid saja. Kemungkinan besar karena Barca dan Athletic Bilbao masih ada rasa satu suku senasib sepenanggungan saat itu, yakni Catalan dan Basque.

Barcelona menuntut dicabutnya gelar tersebut kemungkinan karena bete gara-gara permintaan mereka ditolak RFED. “Blaugrana” sebelumnya meminta agar prestasi mereka di Liga Mediterania pada 1937 disahkan.

Namun, permintaan itu ditolak mentah-mentah meski tak sampai bikin Barca galau gara-gara patah hati. Begitu juga dengan Levante yang juga ditolak cintanya oleh RFEF untuk mengabulkan kemenangan Copa de la Espana Libre pada 1937.

Jadi ceritanya pada 1931, situasi negara Spanyol saat itu dikuasai rezim Republik Spanyol Kedua. Raja Alfonso ketika itu turun tahta dan diasingkan entah ke mana, yang jelas bukan di Boven Digoel.

Namun, pada 1936 terjadi pemberontakan yang menyebabkan Perang Saudara di Spanyol sampai tahun 1939 antara kaum Republikan melawan Nasionalis. Pada periode itu, Copa del Rey sementara diliburkan dan muncul lah liga-liga ‘tarkam’, seperti Copa de la Espana Libre dan Liga Mediterania.

Liga Mediterania yang ikut cuma beberapa klub saja macam Barcelona, Valencia, Espanyol, Levante, dan beberapa klub kurang terkenal seperti Girona, Gimanstico, Granollers, sampai Atletico Castellon yang bahkan tidak ada Wikipedianya. Sebagian diikuti kaum Republikan.

Melihat RFEF saat itu lagi libur sementara karena dilanda kerusuhan negara, maka otomatis tidak akan mengesahkan kompetisi-kompetisi ‘tarkam’ pada periode 1936-1939. Apalagi, setelah Perang Saudara Spanyol dikuasai kaum Nasionalis, dipimpin Jenderal Franco yang Real Madrid banget.

“Turnamen resmi adalah kompetisi yang diatur asosiasi sepak bola negara bersangkutan, dan bernaung di bawah FIFA,” tulis keterangan RFEF saat itu.

Berdasarkan argumen RFEF itulah Barca makanya mendesak gelar Copa del Rey sebelum 1909 juga tidak disahkan. Mereka mungkin berpikir kalau persepak bolaan Spanyol saat itu belum berafiliasi ke FIFA. Jangankan anggota FIFA, wong federasinya saja belum ada.

Kompetisi sepak bola Spanyol sebelum itu masih di bawah pengaruh Raja Alfonso XIII, makanya kompetisinya bernama Copa de Su Majestad El Rey Alfonso XII. Kompetisi itu merupakan kompetisi yang nomor wahid ketika itu.

Main photo credit: Wikimedia Commons

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here