Kabar miris dan menyedihkan datang dari tanah leluhur sepak bola modern di Inggris sana. Salah satu tim tertua di Inggris yang bukan berasal dari Jawa, Bury FC, dipastikan dicoret dari keanggotaan Liga Inggris karena mengalami kebangkrutan.

Kehidupan klub-klub di Inggris ternyata tak semanis Premier League atau setidaknya yang kita saksikan di layar kaca.

Kalau kata Iwan Fals, si kaya City, MU, Chelsea, Spurs, Arsenal, Liverpool, dst bertambah gila dengan harta kekayaannya, sementara luka si miskin klub-klub kasta bawah semakin menganga.

Kesenjangan ternyata tak terjadi hanya di negara ber-flower saja. Ternyata di Inggris sana, klub-klub juga mengalami nasib yang sama.

Saat klub-klub Premier League dengan mudah menghamburkan ratusan juta euro untuk belanja pemain, ternyata banyak juga yang berjuang melawan kebangkrutan. Salah siapa? Kalau di negara +62 sudah pasti salah pemerintah dan aseng.

Salah satu yang dipastikan mengalami kebangkrutan adalah Bury. Klub dengan sejarah kurang lebih selama 134 tahun dan catatan dua gelar Piala FA, dipastikan tinggal nama.

Hal ini dipastikan setelah operator Liga Inggris, English Football League (EFL) mencoret mereka dari daftar keanggotaan.

Keputusan itu membuat Bury menjadi tim pertama yang dikeluarkan dari Liga Inggris sejak tahun 1992. Terakhir kali pada tahun itu, Maidstone United mengalami hal serupa.

Keanggotaan Bury yang sudah mencapai 125 tahun di Liga Inggris harus dicabut setelah C and N Sporting Risk batal mengambil alih klub berjuluk “The Shakers” tersebut.

Seperti dilansir dari CNN Indonesia dari Guardian, Bury FC yang kalau dalam bahasa Jawa berarti “belakang” itu mengalami kebangkrutan karena memiliki utang mencapai 75 persen kepada HM Revenue and Customs dan juga kreditor lainnya serta kepada para pemain yang gajinya belum dibayarkan setelah membawa klub tersebut promosi ke League One, empat bulan lalu.

“Dewan EFL bertemu  dan setelah diskusi panjang serta terperinci, menetapkan keanggotaan Bury FC dari Liga Sepakbola Inggris dicabut setelah melewati batas waktu pada pukul 17.00 hari ini [Selasa, 27 Agustus],” demikian pernyataan EFL dikutip dari CNN Indonesia.

EFL menilai bahwa pemilik Bury yaitu Steve Dale tidak bias menunjukan bukti yang diperlukan terkait keuangan klub. Keadaan itu membuat kepemilikan Bury ditawarkan ke pihak lain yaitu C and N Sporting Risk.

Tapi pada akhirnya C and N Sporting Risk juga menarik diri dari penawaran tersebut. Mirisnya keputusan calon pemilik baru itu dibatalkan 90 menit dari batas waktu yang ditetapkan oleh EFL.

“Karena itu, setelah mempertimbangkan semua opsi yang tersedia, Dewan EFL dengan suara bulat dan penuh penyesalan memutuskan keanggotaan Bury dicabut,” ucap EFL.

Hilangnya Bury dari daftar Liga Inggris membuat kompetisi Legue One atau Divisi III musim 2019/2020 hanya diikuti 23 tim. Sebelum keputusan EFL keluar, Bury belum memainkan satu pun laga di League One meski sudah memasuki pekan kelima.

Sementara itu pada sisi lain, klub yang cukup ternama bagi generasi remaja-remaja 2000-an yang lahir dalam masa orba yaitu Bolton Wanderers, juga terancam mengalami kebangkrutan karena banyaknya pinjaman yang belum dilunasi.

Klub yang pernah diperkuat Jay-Jay Okocha, Ivan Campo, Fernando Hierro, Garry Speed, Tal Ben Haim, Eidur Gudjonsen, sampai Nicolas Anelka.

Bolton punya 14 hari untuk mendapatkan investor baru dan membereskan kekacauan neraca keuangan mereka. Hingga 12 September 2019, Bolton masih diizinkan untuk mengikuti kompetisi.

Namun, seperti dilansir dari Tirto, apabila mereka gagal menemukan investor baru, Bolton bakal bernasib sama dengan Bury yang keanggotaanya dihilangkan. Lebih parahnya lagi, Bolton juga bisa terkena likuidasi (aset-asetnya akan dijual untuk menutup utang klub).

https://twitter.com/Sporf/status/1166301568100110336

Main photo: Twitter

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here