Oleh: Paundra Jhalugilang

Lionel Messi telah dinobatkan sebagai penerima Ballon d’Or 2019. Namun yang kocak, Messi yang dapat gelarnya, yang ramai di media justru Cristiano Ronaldo.

Ya, persaingan Messi dan Ronaldo ini bagaikan persaingan Nikita Mirzani dan Barbie Kumalasari. Selalu dipanas-panasi oleh media. Ronaldo tak hadir pada acara itu dibilang ngambek.

Bahkan banyak yang bilang kalau Ronaldo tak mendapat Ballon d’Or karena penurunan performa setelah pindah dari Real Madrid. Benarkah itu, Fergusso?

Perdebatan Messi layak meraih Ballon d’Or juga menjadi perdebatan tersendiri. Pasalnya, banyak yang menganggap Virgil van Dijk jauh lebih layak karena membawa Liverpool meraih juara Liga Champions dan membawa timnas Belanda sampai ke final UEFA Nations League.

Jika dilihat secara prestasi, Ronaldo juga tak kalah. Dia juga membawa Juventus meraih Scudetto dan Portugal juara UEFA Nations League. Sementara Messi, hanya membawa Barcelona meraih gelar La Liga.

Namun, jika dilihat statistik individunya, Messi ini memang mentereng banget. Semua dia lahap, pencetak gol terbanyak Liga Champions dan La Liga, hattrick terbanyak, assist terbanyak, dan banyak lagi. Pokoknya banyak!

Memang, tak adil rasanya membandingkan Messi dan Van Dijk jika dilihat dari statistik individu. Soalnya, Van Dijk kan berposisi sebagai bek, bagaimana mungkin golnya mengalahkan seorang Messi.

Namun ya itulah, balik lagi, namanya juga voting. Apalagi dilakukan oleh satu jurnalis tiap negara. Van Dijk hanya menang di kantong pemilihan TPS-TPS Eropa dan Asia. Sedangkan sisanya dikuasai Messi. Messi unggul 7 suara, menang tipis dari Van Dijk yang memilih menerima kekalahan tanpa mengajukan gugatan ke MA.

Nah, yang menjadi pembahasan di artikel ini bukan lah debat kusir Messi layak atau tidak raih Ballon d’Or. Messi sudah pasti jagonya kebangetan, tak perlu diragukan kalau dia meraih Ballon d’Or. Sudah pasti dia layak.

Yang jadi masalah adalah sorotan kepada Ronaldo. Benarkah dia mengalami penurunan performa sehingga kalah dalam pemilihan ini? Aku rasa sih No!

Pada setengah musim ini, Ronaldo sudah mencetak 21 gol dari 27 pertandingan di segala kompetisi, termasuk kualifikasi Piala Eropa. Sedangkan Messi 19 gol dari 29 pertandingan di segala kompetisi termasuk uji coba internasional.

Artinya, pencapaian Ronaldo tidak jelek. Bahkan lebih bagus dari Messi. Hanya saja, pada 16 laga bersama Juventus, dia hanya mencetak tujuh gol. Beda dengan Messi di level klub yang mencapai 14 gol.

Namun, bukan kah Ballon d’Or ini tidak hanya diukur dari level klub? Artinya kalau melihat performa internasional bersama Timnas, Ronaldo ini masih gacor banget.

Kalau ditambah musim lalu, artinya membaca keseluruhan statistik selama 2019, total Ronaldo mencetak 49 gol dan 12 assist dari 70 pertandingan. Tidak jelek, cenderung bagus malahan.

Sayangnya, perhatian kita hanya tertuju pada penampilannya di level klub. Ekspektasi Ronaldo di Juventus terlalu tinggi. Tapi orang lupa bahwa bermain bersama tim Italia itu tidak bisa bergerak secara individu.

Ronaldo bisa mencetak 21 gol pada musim pertamanya di Seri A saja itu sudah bagus banget. Jangan disamakan dong dengan permainan di La Liga yang mana bisa mencetak sampai 30-an gol.

Kompetisi di Seri A begitu ketat, taktis, bahkan butuh kecerdasan. Tidak semata-mata mengandalkan otot dan skill. Butuh kekompakan dan kesatuan sebuah tim untuk memenangkan laga. Seri A adalah liga yang rumit. Begitulah apa kata mantan pemain-pemain terbaik dunia. Coba saja search di Google.

Ronaldo tidak bisa mengandalkan skill-nya sendiri untuk mencetak gol. Apalagi dia sudah makin tua, meski otot masih berasa muda. Kalau Messi disuruh main di Juventus, rasanya juga akan mengalami penurunan statistik. Ada penurunan dalam jumlah gol dan assist karena baru pegang bola sedikit sudah kena tekel kobra.

Selain itu, Ronaldo juga dinobatkan sebagai pemain terbaik Seri A dan masuk dalam Best XI. Artinya, performa Ronaldo harusnya tidak mengalami penurunan. Mungkin karena kitanya saja yang terbiasa melihatnya bermain untuk Madrid yang mudah membuat gol.

Jangan lupakan juga bahwa bang Krisno ini sekarang main untuk Juventus di mana masih beda kelas dengan Real Madrid. Juve di Italia memang sudah jawara. Kalau kata orang, ‘King Lokalan’.

Namun di Eropa, memble banget. Mental layu macam kangkung warteg. Dari yang tadinya main bareng pemain-pemain kelas dunia macam Luka Modric, Toni Kroos, Marcelo, Gareth Bale, Karim Benzema, hingga Isco.

Kini dia bermain bersama Paulo Dybala yang di timnas Argentina saja bukan pemain inti. Bersama Gonzalo Higuain yang belum lama di-ping-pong Juventus dan Milan. Bersama Douglas Costa yang cedera melulu. Bersama Federico Bernardeschi yang main di Liga Champions saja terhitung dengan jari. Bersama Sami Khedira yang sudah tersisihkan dari timnas Jerman. Atau bersama Alex Sandro yang masih jadi cadangannya Marcelo di Brasil.

Jangan lupakan juga Ronaldo kini main under Maurizio Sarri yang seumur hidupnya baru merasakan satu medali. Beda dengan Zinedine Zidane yang dari level pemain saja sudah juara dunia.


Paundra Jhalugilang

Penulis adalah pemuda harapan bangsa yang biasa-biasa saja. Bekas wartawan tanpa pengalaman yang melihat sepakbola dengan penuh pesona.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here