Oleh: Muhammad Ghozy Ihsan

Ngarepnya sih ‘CEMPYEN’, eh dapatnya nugget tukang sayur.

Masih segar di ingatan publik sepak bola interlokal, soal kebangkitan klub asal London, Queens Park Rangers (QPR), klub yang dimiliki taipan asal negri jiran dan bos Air Asia berdarah India, Tony Fernandes yang “katanya” cukup menggemari tembang lawas Krisdayanti.

Klub yang bermarkas di Loftus Road ini berhasil merebut satu kursi ke panggung utama Liga Inggris (Barclays Premier League) pada musim 11/12, setelah terakhir kali klub tersebut bersaing di (BPL) pada musim 95/96.

Datang dari divisi Championship, QPR gila-gilaan merestorasi total pemain mereka dari setiap lini. QPR  datang dengan segudang amunisi kekuatan dengan niat untuk merusak hegemoni ‘big six’ dengan melabuhkan pemain-pemain berlabel bintang dan berpengalaman pol seperti Julio Cesar, Ferdinand bersaudara, Adel Taarabt, Jose Bosingwa, Esteban Granero, Ji Sung-Park, Fabio, dan Djibril Cisse.

Tak ayal, membuat publik Loftus Road bermandikan cahaya keangkuhan dengan datangnya para pemain berlabel bintang tersebut, mengingat nama-nama tersebut bukanlah pemain kacangan melainkan pemain-pemain bertarafkan garib, tidak seperti Lingard yang hobinya cuma jaipongan dari pojok lapangan.

Adel Taarabt salah satunya, wonderkid asal Maroko ini sempat digadang- gadang sebagai titisan Zinedine Zidane, eh jangan mentang-mentang berlatar belakang sama-sama imigran, rasanya kelewat timpang apabila Taarabt disandingkan dengan pemain kelahiran Marseille tersebut.

Harry Redknapp pelatih QPR kala itu pun merasa ganjil, ia mengira apakah hanya kesamaan potongan rambut antara keduanya bisa disebut sebagai suksesor, “bisa aja kangkung basah, yhaaa…,” begitulah kira-kira kata cing Abdel.

Namun dibalik tudingan seperti itu, Taarabt pun sempat meyakinkan publik dengan menyabet titel pemain terbaik Arab di warsa 2011. Memang mesti kita akui pemain ini cukup piawai dalam mengolah si kulit bundar dan memanipulasi arah laju bola dengan satu dua sentuhan dingin. Eks kompatriot nya di QPR pun berpandangan demikian, Joey Barton.

Nama yang tak kalah menarik yakni Cisse, penyerang nyentrik yang rambutnya satu marga dengan Taribo West ini didatangkan dari klub rival sekota Roma, yaitu Lazio dengan mahar 6 juta poundsterling. Ya memang dirasa sepadan dengan performa apik dan pengalaman ciamik yang dimilkinya.

Pun dilihat dari maklumat ketajaman beliau di klub sebelumya, memang paten punya,  dengan keberhasilan melahirkan 43 gol dan ikut membidani 26 assist dari 46 laga yang dimainkanya, catatan impresif ini memang amat menjanjikan manajamen klub, dengan raihan tersebut Cisse diharapkan menjadi protagonis lini depan tim untuk meneror pertahanan kesebelasan lawan. Namun, harapan manajemen hanya menjadi harapan kosong, ia tampil mandul dan inferior di depan gawang lawan, ibarat keripik Chuba kesebor cuko pempek, ngedoyot.

https://twitter.com/IrfaanChutkai/status/1255787535298510848

Untuk nama-nama mentereng lainya seperti oppa Ji Sung-Park, dan kredo-kredonya usahlah kita bahas, rasanya amat sedih mengulas statistik mereka kala itu. Akan lebih arif bilamana QPR mencoba jasa pemain nasional dengan rasa Latin yaitu Ronald Fagundez, rasanya akan lebih baik ketimbang mereka-mereka ini

Ditambah pula ketika isu kebangkrutan kian santer terdengar, awan kelam pun tak kunjung pergi, dengan hadirnya perkara baru soal ketidakjelasan manajemen klub dalam upaya membayar gaji para pemain bintang mereka. Sebab, manajemen tak menautkan klausul degradasi dalam kontrak mereka. Fiuuh…takabur sekali mereka hai, ajo kawir.

Tak cukup sampai di situ mereka pun terlempar dari percaturan hierarki teratas Liga Inggris. Bagai aforisme masyhur “sudah jatuh, terinjak, dan tertimpa tangga” nahas sekali sungguh.

Memang sudah rahasia umum, perkara seperti ini bukan barang baru untuk klub yang memang jor-joran dalam jendela transfer, yang justru hanya menjadi pecundang klasemen. Mudah ketaker, alias gampang ditebak.

Prestasinya ya cuma bolak-balik degradasi dan promosi liga, seperti yang terjadi pada Fulham pada musim 18/19, klub ini berhasil mendatangkan beberapa nama besar seperti J.M Seri, Ryan Babel, dan yang fenomenal nya lagi mereka berhasil mendatangkan juara dunia, Andre Schurrle. Maksud hati memeluk gunung, apadaya tangan tak sampai, seperti petir di siang bolong di musim itu juga Fulham turun kasta.

Namun jangan salah, dibalik kesengsaraan mereka, klub kuncen bawah klasemen cukup dibutuhkan, ya sebab klo gaada mereka tak akan lahir klub-klub mentereng macam Chelsea, Liverpool, Arsenal, City, dan Manchester United, tapi untuk nama terakhir mungkin perlu perenungan dan pengkajian lebih lanjut.

Terlampau ironi memang, ketika effort yang diusahakan tak bermuara kepada keberhasilan suatu klub. Hal tersebut pasti membuat geram semua pihak internal klub, tak cukup sampai di situ upaya immaterial perlu diejawantahkan, dengan visi permainan yang luhur setali dengan kolektivitas tim yang unggul, karena uang tak melulu menjadi penjamin semua akan berjalan lancar, rasanya cukup pongah apabila masih saja berfirman bahwa cuan dapat membeli segalanya.

Akankah Newcastle menjadi cerita selanjutnya? Menarik untuk disimak.


Muhammad Ghozy Ihsan

Meninjau sepak bola dari kacamata lumba-lumba secara bernas, aktif menyokong Atletico de Madrid

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here