Oleh: Paundra Jhalugilang

Bursa transfer Liga Primer sudah resmi ditutup seiring dengan dimulainya kompetisi tersebut pada akhir pekan kemarin. Klub kini sudah tak bisa beli pemain lagi, meski kalau mau jual pemain masih bisa. Jual hewan kurban juga mungkin masih boleh asal tak lewat dari tanggal 13 Zulhijah.

Seperti biasa, klub-klub Liga Primer langsung menyibukkan diri, belanja ke sana ke mari walau tak mencari kitab suci. Ada klub yang aktif dan agresif banget macam sales kartu kredit di mal-mal, ada juga yang pasif macam pegawai baru diajak meeting.

Tottenham Hotspur menjadi tim pertama yang (sepertinya) tidak beli pemain sepanjang keikutsertaan tim di Liga Primer. Tidak tahu juga benar atau tidak, tapi memang sangat jarang sekali tim Inggris ini tidak beli pemain.

Entah pede tingkat tinggi atau benar-benar lagi irit. Apalagi zaman serba susah begini, plus tahun 2019 adalah tahun politik di Indonesia.

Yang pasif berikutnya adalah duo Manchester. Tumben-tumbenan mereka kompakan, padahal biasanya begitu saingan. Manchester United cuma merekrut Diogo Dalot, Fred, dan Lee Grant. Ya, memang namanya kurang dikenal sebagian warga bola. Wajar kalau belakangan Jose Mourinho misuh-misuh tak mendapat pemain yang diinginkannya.

Sedangkan City cuma beli Riyad Mahrez meski rada mahal sampai 60 jutaan pounds. Tapi ini tumben-tumbenan, soalnya City tergolong royal kalau di bursa transfer. Entah apakah mereka lagi cekak atau gimana, tapi sepertinya skuat Pep Guardiola sudah terpenuhi semua. Soalnya musim lalu mereka banyak merekrut pemain.

Sedangkan yang cukup aktif adalah Liverpool dan Arsenal. Dua klub itu sama-sama berseragam merah, tapi mereka tak ada hubungan saudara, pacar, atau keluarga.

The Reds” yang paling banyak keluarkan uang kali ini dengan membeli empat pemain sampai totalnya 161 juta pounds. Mereka membeli Alisson Becker, Naby Keita, Fabinho, dan Xerdan Shaqiri. Keempatnya bisa dibilang pemain yang sudah diketahui jelas kualitasnya. Kalau mau dicek di Youtube banyak sekali videonya.

Sementara Arsenal masih agak lebih irit. Irit sama pedit memang beda-beda tipis, tapi sepertinya lebih enak bilang Arsenal ini irit karena mesti dilihat juga prestasinya belakangan ini. Lolos ke Liga Champions saja tidak, masak mau beli pemain mahal.

Namun, pergerakan mereka cukup efektif, mereka merekrut lima pemain lumayan oke. Yakni Stephan Lichtsteiner gratisan, Bernd Leno, Sokratis Papastathopoulos yang namanya panjang, serta Lucas Torreira, dan Matteo Guendouzi. Nama terakhir katanya main bagus selama pramusim dan langsung jadi starter lawan City.

Masih ada satu tim lagi yang menunjukkan geliatnya di bursa transfer. Siapa dia? Dia adalah Chelsea tanpa embel-embel Olivia atau Islan. Bagaimana kisahnya di bursa transfer kali ini? Masih sama kayak dulu, mengulang “Kesalahan yang Sama“-nya Kerispatih.

Kesalahan yang Sama

Chelsea lagi-lagi harus menghadapi kendala dalam setiap perburuan pemainnya musim ini. Mereka memang sukses mendatangkan Jorginho, Kepa Arrizabalaga, Robert Green, dan Mateo Kovacic. Tapi itu dilakukan setelah kefrustrasian melanda mereka.

Musim lalu, “The Blues” banyak mendatangkan pemain top. Sebut saja Alvaro Morata, Tiemoue Bakayoko, Antonio Ruediger, Davide Zappacosta, dan Danny Drinkwater si peminum air. Serta Ross Barkley di pertengahan musim yang mengundang tanda tanya dan tawa.

Namun, sepertinya dari semua perekrutan mereka tak ada yang sukses-sukses amat. Morata mainnya masih angin-anginan, Drinkwater yang kelasnya medioker jarang dimainkan padahal dibeli mahal. Zappacosta dan Ruediger belum begitu meyakinkan. Bakayoko flop parah makanya mau dipinjamkan ke Milan musim ini.

Drinkwater sebetulnya yang paling membuat para fans mengangkat alis dan jidat. Pemain macam begitu dibeli 35 juta pounds. Memang, dia membantu Leicester menjuarai Liga Primer bersama N’Golo Kante. Mungkin maksudnya mau diduet ulang di Chelsea. Tapi hasilnya gagal karena dia cuma main 12 kali di Liga Primer.

Berarti membuktikan tulisan di Bolatory musim lalu bahwa kiprah transfer Chelsea yang disebut “IQ Jongkok” macam judul film Warkop itu benar adanya. (Baca Juga Dong: Tak Salah Jika Aktivitas Transfer Chelsea Disebut IQ Jongkok).

5

Musim ini, Chelsea tampak kembali mengulang kisah klasiknya itu. Berulang kali mereka ditikung oleh klub lain dalam mendapatkan pemain. Padahal, daftar target pemain yang mau dibeli sangat banyak. Tapi tak ada yang terealisasi.

Pertama, manajemen katanya ingin mendatangkan bek kelas dunia ke Stamford Bridge. Kedatangan Maurizio Sarri membuat Chelsea ingin mereunikannya dengan Kalidou Koulibaly. Tapi ditolak mentah-mentah oleh Napoli.

Kemudian mereka mengincar John Stones dan Alessio Romagnoli yang berakhir dengan penolakan. Lalu “Si Biru” kembali mencari bek di Italia dan muncul lah nama Daniele Rugani. Bahkan belakangan mau coba-coba nyalip Milan untuk Mattia Caldara.

Semua itu hanya ilusi. Juve menolak proposal untuk Rugani karena mereka sudah kehilangan Caldara. Sedangkan proposal Chelsea buat Caldara dicueki atau dikacangi mentah-mentah. Juve lebih demen kerja sama dengan Milan.

Sampai sekarang, Chelsea tak mendapatkan satu pun bek tengah yang aduhai. Jadi kembali lah kepada Gary Cahill, Ruediger, David Luiz, Andreas Christensen, dan Cesar Azpilicueta.

Di lini tengah, Chelsea penasaran mendatangkan gelandang mereka yang sudah mulai bobrok karena diisi Bakayoko, Drinkwater, Cesc Fabregas, sampai Ross Barkley. Praktis cuma Kante saja yang berkualitas mantap.

Chelsea memang mendapatkan Jorginho yang sepertinya bakal sukses di Stamford Bridge. Tapi itu saja dirasa masih kurang cukup.

Mereka lalu mengincar banyak nama macam Miralem Pjanic, Aleksandar Golovin, Christian Pulisic, sampai Sergej Milinkovic-Savic. Tapi semua itu hanya fana dan PHP semata. Direktur Chelsea, Marina Granovskaia, yang lumayan kece tak mampu mewujudkannya. Ternyata kinerjanya tak sekece wajahnya.

Di lini depan, Chelsea tampak cuma jadi pengekor klub lain saja. Klub lain incar A, dia ikutan incar A. Klub lain incar B, dia ikutan incar B. Lama-lama kalau klub lain incar sempak Stefano Lilipaly, mungkin mereka juga mau ikutan kejar sempak Lilipaly.

Hal itu terbukti dari keinginan mereka mendatangkan Gonzalo Higuain untuk menggantikan Morata. Padahal Milan duluan yang menyatakan hasratnya untuk sang pemain. Kemudian nama Robert Lewandowski sempat muncul tapi ditolak mentah-mentah oleh Bayern Muenchen.

Nyatanya mereka tak mendatangkan satu striker pun musim ini meski sudah banyak orang yang memberikan saran kepada mereka. Tapi mereka seperti orang DPR saja, ogah mendengar suara rakyat.

“Untuk memenangkan liga, mereka harus mempertahankan Hazard dan harus mendapatkan seorang penyerang,” kata Gary Neville, beberapa hari lalu.

“Sarri membutuhkan penyerang tengah, seseorang yang bisa diandalkan. Saya tidak melihatnya dalam diri Morata,” begitulah pernyatan Richard Dunne, sebelum pernyataannya Neville.

https://twitter.com/sazio1984/status/1024049605116403713

Penyakit Chelsea yang kerap gagal dalam bursa transfer bakalan kembali terjadi. Bukannya membeli striker atau bek tengah, mereka malah mendatangkan dua kiper sekaligus. Yang bikin kaget adalah nama Robert Green untuk menjadi kiper ketiga. Entah apa yang ada di pikiran mereka.

Lalu mereka memang sukses mendatangkan Kepa Arrizabalaga untuk menggantikan Thibaut Courtois. Tapi dengan harga yang sangat mahal sekali bagi seorang kiper tanpa pengalaman di lever internasional.

Kalau dari aksi-aksinya di Youtube memang keren. Tapi belum jaminan dia bakal jadi Gianluigi Buffon versi 3.0 karena sudah berstatus sebagai kiper termahal.

Bisa dibilang ini langkah paniknya Chelsea. Mereka tahu bakal kehilangan Courtois, lalu bingung mengincar siapa. Akhirnya mereka memilih Kepa walau jelas-jelas baru saja menandatangani kontrak baru dengan Athletic Bilbao. Wajar harganya mahal.

Namun mereka bodo amat. Yang penting dapat kiper, soalnya incaran mereka macam Alisson, Jordan Pickford, dan Gianluigi Donnarumma sudah gatot alias gagal total. Mau rekrut Andritany takut tak boleh dilepas Persija.

Makanya wajar kalau Chelsea mengaktifkan klausul kontrak pelepasan yang mencapai 80 jutaan. Jadi keberhasilan mereka mendatangkan Kepa bukan keberhasilan negosiasi lantaran hanya mengaktifkan klausul tersebut tanpa tawar-menawar.

Nama terakhir yang datang adalah Kovacic. Lumayan lah daripada lu manyun. Tapi jangan senang dulu. Selalu ada celah buat di-bully. Kovacic datang ke Chelsea dengan status pinjaman dengan mengundang perdebatan. Katanya ada yang bilang kalau dia datang tanpa opsi pembelian. Meski ada juga yang mengklaim kalau ada.

Kalau sampai tidak ada, maka lucu jadinya si Chelsea ini. Belum lagi si Kovacic ini sebenarnya cuma jadi Camat saja di Madrid alias Cadangan Mati.

Entah apa yang salah dengan tim asal Kota London yang jauh dari Manokwari itu. Seolah bursa transfer mereka selalu saja jadi bully-an para awak media dan ketikan jari para warga bola di media sosial.

Pemain dibeli mahal, ujung-ujungnya gagal. Coba tengok sudah berapa banyak pemain hebat yang dibeli Chelsea, hebat di klub lamanya tapi tak sehebat (baca: gagal) saat main di Chelsea.

Sebut saja mulai dari Pierluigi Casiraghi, Chris Sutton, Adrian Mutu, Shaun Wright-Phillips, Juan Veron, Hernan Crespo, Andriy Shevchenko, Michael Ballack, Alexander Pato, Fernando Torres, Radamel Falcao, sampai eranya Bakayoko kemarin.

Lalu ada juga pemain yang gagal bersinar di Chelsea, tapi bersinar di klub lain berikutnya. Macam Kevin de Bruyne, Mohamed Salah, Juan Cuadrado, Romelu Lukaku, Andre Schuerrle, Filipe Luis, sampai Michy Batshuayi.

Entah di mana salahnya. Apakah manajemen Chelsea yang kurang jeli dalam pembelian pemain, atau suasana internal sang penguasa Roman Abramovich yang bikin pelatih jadi pusing dan tertekan. Entah lah.

Yang jelas, bursa transfer Chelsea masih tetap sama. Malah jadi mirip lagunya Kerispatih yang berjudul “Kesalahan yang Sama”. Soalnya masih gitu-gitu saja.

Main photo: Purely Football


Paundra finPaundra Jhalugilang

Penulis adalah pemuda harapan bangsa yang biasa-biasa saja. Bekas wartawan tanpa pengalaman yang melihat sepakbola dengan penuh pesona.

2 COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here