Kabar duka menyelimuti tim dari kota Milan yang ada AC-nya. Tim berjuluk “Rossoneri” harus di-DO alias di-drop out dari Liga Europa. Bukan karena ketahuan narkoba, tapi karena tidak mampu memperbaiki neraca keuangan dan terkena kebijakan FFP.

Kasus DO ini memang umum terjadi di sekolah-sekolah. Biasanya kasusnya karena ketahuan pakai narkoba, hamil di luar nikah, tawuran, pengeroyokan, keseringan cabut, sampai ke-gep merokok berkali-kali. Atau bisa juga karena poin siswa sudah melebihi batas. Misalnya keseringan terlambat sehingga lama-lama poinnya jadi banyak dan di-DO.

Kasus DO ternyata juga terjadi di kompetisi sepak bola Eropa. Milan dinyatakan drop out setelah melakukan pertemuan dengan pihak UEFA. Sebelumnya, mereka sudah mendapat teguran dari yang punya aturan.

Hal itu terkait neraca keuangan Milan yang tak kunjung sehat. Minus melulu kayak kacamata rabun jauh. Milan sudah disarankan menjual beberapa pemain bintangnya macam Kryzsztof Piatek, Gianluigi Donnarumma, dan Alessio Romagnoli.

Cuma sayang, hal itu tidak dilakukan Milan. Demi mempertahankan pemain-pemain andalannya itu, “Rossoneri” rupanya memilih untuk keluar saja dari Liga Europa. Jadi, keputusan ini sebenarnya juga diambil oleh Milan, bukan keputusan sebelah pihak dari UEFA.

Makanya, kata yang ada dalam keputusan CAS adalah “agreement” alias kesepakatan, alias kesepakatan “untuk dikeluarkan” karena Milan sendiri yang memutuskan mundur. Entah ini langkah ngeles atau enggak, soalnya kalau diteruskan Milan sudah pasti di-DO secara sepihak. Bisa saja ini ngeles-ngeles ala Milan saja biar enggak kelihatan di-DO.

Kan malu kalau didengar tetangga, jadi omongan sekampung. “Ih, anaknya ibu anu, masak di-DO dari sekolahnya gara-gara ngembat bayaran uang sekolah.”

Namun, konsensus ini cukup memuaskan UEFA dan Milan, karena tidak hanya membuktikan niat salah satu klub anggota badan konfederasi untuk menyeimbangkan finansial mereka, tetapi juga memberi Rossoneri lebih banyak waktu untuk kembali ke jalur positif.

Buat Milanisti sendiri sebenarnya juga enggak kecewa-kecewa amat. Toh cuma Liga Malam Jumat. Lebih baik fokus ke Seri A daripada bela-belain main di Liga Europa.

Begitulah kalau ambil sisi positifnya. Tapi dari sisi negatifnya, ya sudah pasti bully-bully-an di media sosial makin menjadi-jadi. Apalagi dari klub-klub pesaing. Terutama fans Inter sama Juventus, mereka lah yang paling girang dan puas menertawakan Milanisti saat ini. Katanya “We are so rich“.

Manajemen Milan sendiri juga enggan memberikan komentar lebih jauh soal hukuman ini. Lebih baik diambil hikmahnya saja.

“Tak boleh ada yang berkomentar mengenai hukuman. Sangat mengecewakan tak bisa bermain di Eropa, tapi kami bukanlah orang yang bertanggung jawab atas pelanggaran ini. Kami hanya mesti mengakhiri saga ini dan melepaskan beban di punggung kami,” ujar Presiden Milan, Paolo Scaroni.

Bangku kosong AC Milan akan diisi oleh Torino dengan ongkos gratis, tak dipungut biaya, tidak ada sistem zonasi juga. Takutnya kayak mau masuk sekolah zaman sekarang, gara-gara pakai zonasi banyak orang tua murid yang akal-akalan titip anak dengan orang lain dan bayar sekian juta.

Main photo: BBC Sport

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here