Oleh: Albertus Dio Sukma

Selasa 26 Februari 2019, Timnas Indonesia dinyatakan juara dalam ajang AFF U-22 setelah menghempaskan Thailand 2-1 tanpa adanya waktu tanggung alias pertambahan waktu yang artinya menang dalam 90 menit.

Pencapaian juara ini sebenarnya dilalui dengan kurangnya persiapan. Sang pelatih yaitu Indra Sjafri baru dipilih pada 20 Desember 2018 di mana saat itu ditunjuk juga Simon McMenemy sebagai pelatih timnas senior.

Artinya, coach Indra yang kumisnya menggemaskan itu hanya mempunyai kurang lebih dua bulan dalam mempersiapkan tim ini. Itu belum termasuk waktu libur akhir tahun para pemain serta staff dalam tim.

Sementara jika dibandingkan dengan negara lain seperti Vietnam, menurut situs yang akrab menjadi referensi mahasiswa, Wikipediasudah menunjuk Park Hang-seo sebagai pelatih Timnas U-22 sekaligus timnas senior mereka sejak 2017. Sayangnya, negara yang ternyata terletak di Asia Tenggara itu hanya berhasil  mencapai peringkat tiga di ajang AFF U-22 ini.

Sedangkan lawan Timnas Indonesia di final yaitu Thailand, menurut data yang diambil dari situs my.dbasia.new, sudah menyiapkan Alexandre Gama sebagai pelatih sejak 7 November 2018. Gama yang juga sebagai mantan pelatih dari Buriram United & Chiangrai United sudah kenal betul dengan pesepak bolaan Negeri Gajah Putih.

Memang menjadi budaya ketika dadakan alias deadline itu menjadi tradisi tersendiri dalam negeri ini, ibarat mahasiswa mengerjakan revisian yang dijadwalkan Bab 2 harus selesai hari Jumat, tetapi mahasiswa tersebut malah mengerjakannya pada Kamis malam.

Yang menjadi nilai plusnya ialah revisian tersebut diterima dan tidak menjadi revisi lagi. Bagaimana tidak hebat negeri ini jika berbicara urusan yang dadakan.

Berbicara mengenai judul artikel ini, pada akhir 2018 lalu Timnas senior kita mengalami kegagalan total dalam ajang AFF Suzuki Cup 2018 yang hanya mencicipi fase grup dan tidak lolos ke babak berikutnya.

Kegagalan ini salah satunya diakibatkan sosok Luis Milla yang tidak lagi menukangi Timnas Senior beberapa hari sebelum turnamen ini berlangsung. Ditunjuknya Bima Sakti sebagai pengganti yang notabene tidak mempunyai waktu mumpuni untuk menyiapkan tim ini maka terciptalah kegagalan Timnas Senior dalam ajang AFF 2018.

Lalu pemegang kendali induk pesepak bolaan Indonesia saat itu, yakni Ayah Edy Rahmayadi yang sekarang sudah jadi mantan terindah untuk PSSI karena sudah meninggalkan beberapa statement yang membuat warganet terbingung jika mengingatnya kembali.

Pada wawancaranya bersama salah satu stasiun televisi ternama di Indonesia mengenai alasan kegagalan Timnas di ajang AFF 2018, ayah Edy menjawab, “Wartawan harus baik, kalau wartawan baik nanti Timnas-nya baik.”

Statement yang keluar dari Gubernur Sumatera Utara itu sempat menjadi viral di media sosial. Soalnya sama sekali tidak ada korelasinya antara pertanyaan dengan jawaban yang dilontarkan.

Pernyataan tersebut jika ditelaah lebih dalam lagi ternyata ada benarnya, para wartawan lah yang awalnya membuka tabir surya perihal pengaturan skor.

Sebuah hal yang marak terjadi di Indonesia yang terus menerus kian larut begitu saja karena tidak ada pihak berwajib yang betul-betul menangani persoalan ini. Sebelum akhirnya Satgas Antimafia Bola bentukan Tito Karnavian setidaknya sudah berhasil memberantas beberapa para pelaku pengatur skor tersebut.

Mungkin juga ada pesan terselubung lewat statement yang dikeluarkan ayah Edy ini yakni untuk dicerna oleh para awak media mengenai hal yang tidak dapat beliau sampaikan secara gamblang karena begitu banyak tekanan pada dirinya. Sekali lagi mungkin, itu hanyalah hipotesa yang penulis sampaikan dalam tulisan ini.

Sekarang ketika Edy telah mundur, pernyataan tersebut mempunyai pertanda bahwa wartawannya telah baik, maka timnas pun baik hingga dapat menjadi kampiun di AFF U-22.

Lantas setelah ayah Edy sudah tidak menjabat, siapakah yang berani berbicara di depan awak media untuk merepresentasikan bahwa wartawan sudah baik, namun strukur kepengurusan tidak sebaik wartawannya?

Kita lihat saja nanti, maju terus pesepakbolaan Indonesia, berantas mafia!

Main photo: @swara_semesta


Albertus Dio2

Albertus Dio Sukma

Sebuah bola di lapangan yang membuat banyak cerita.

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here