Sebuah kabar menggemparkan dunia persilatan beberapa saat yang lalu. Tidak ada angin, tak ada hujan, apalagi hujan duit, Zinedine Zidane mengundurkan diri sebagai pelatih Real Madrid. Hal ini mengundang sebuah tanda tanya besar. Ada apa?

Keputusan ini diambil sendiri oleh Zidane, bukan oleh tetangga yang mungkin suka menggunjingkannya. Tepat pada tanggal 31 Mei 2018, menjelang Hari Kesaktian Pancasila, pelatih berwajah ganteng elegan itu keluar dari Madrid.

Padahal, Zidane baru lima hari lalu menjuarai trofi Liga Champions ketiganya berturut-turut bersama “Los Blancos”. Apalagi, pelatih ‘botsi’ alias botak seksi itu baru 2,5 tahun menangani Cristiano Ronaldo dan kawan-kawan.

Meski baru 2,5 tahun, tapi sudah sembilan piala yang didapatkannya. Bandingkan dengan Manchester City yang sudah bertahun-tahun paling baru 4-5 piala yang mereka dapatkan.

Mungkin itu jadi alasan Zidane mengundurkan dirinya dari kursi panas. Semua gelar sudah diraih, apalagi Champions yang sampai tiga kali berturut-turut. Tentu sudah memuaskan Zidane. Besar kemungkinan, pria berusia 45 tahun itu bakal mencari tantangan di klub dan liga lain. Di Liga Burundi misalnya.

Pasalnya, Madrid seolah sudah tak punya pesaing di Eropa. Semua gelar terasa enteng, bahkan La Liga juga mereka dapatkan musim lalu. Ya memang mau mengincar apalagi kalau semua gelar sudah didapatkannya kecuali Liga Europa dan Torabika Championship. Wajar kalau Madrid ini bagaikan ditinggal mantan saat lagi sayang-sayangnya.

Jelas kabar ini bikin fans Madrid kecewa bukan main. Saat lagi sayang-sayangnya, lagi senang-senangnya, malah ditinggal pergi, tanpa alasan pula. Biasanya kalau model begini alasannya selalu, “Aku bukan yang terbaik buat kamu.” Alasan basi.

Namun ternyata bukan itu alasannya Zidane. Dalam sebuah sesi konferensi yang digelar dadakan macam tahu bulat, pria yang lihai sekali bahasa Prancisnya itu menganggap Madrid butuh perubahan. Mungkin biar enggak menang terus-terusan, biar tim lain lebih bisa menyeimbangi. Rada sombong memang.

“Saya sudah bicara dengan presiden Florentino Perez, saya tahu bahwa ini waktu yang aneh untuk membuat keputusan mundur. Tapi ini adalah sesuatu yang penting dan bagus untuk semua orang. Saya pikir tim ini butuh terus menang, butuh perubahan dan suara yang berbeda. Sebuah metodologi lain, itulah mengapa saya memutuskan ini,” katanya.

Memang alasan yang cukup masuk akal, meski masih kurang bisa dipercaya oleh para penggemar bola apalagi warganet yang maha benar. Mereka juga enggak bego-bego amat. Pasti merasa ada sesuatu atau alasan lain di balik keputusan itu.

Kabar ini memang langsung menghiasi timeline di media sosial manapun kecuali Friendster dan website SIAK universitas. Kalau yang suka follow akun-akun bola, pasti timeline isinya Zidane semua. Biasa kan orang Indonesia memang suka begitu, kalau yang sedang ramai pasti ikut-ikutan.

Bukan cuma itu, para pemain dan staf Madrid turut mengucapkan perpisahan dan terima kasih kepada mantannya Juventus itu. Seolah sudah kompakan, janjian posting pada jam yang sama biar kelihatan solid. Kabarnya cuma Gareth Bale yang enggak mengucapkan via media sosial, entah kenapa. Mungkin masih baper. 

https://twitter.com/realmadridindo1/status/1002377771023122432

Main photo: @RMadrid_Stats

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here