Yang bisa bergoyang tak hanya penyanyi dangdut, tapi juga pemain sepak bola. Goyang di sini bukan dalam makna sebenarnya, tapi ‘bergoyang’ alias menari di lapangan untuk mencetak gol. Itulah Piere-Emerick Aubameyang yang bikin Borussia Dortmund menang.

Aubameyang yang namanya kocak itu memang bikin kepala para pemain Benfica jadi peang. Dia memborong tiga dari empat gol kemenangan timnya atas Benfica di leg kedua babak 16 besar Liga Champions.

Meski terlihat rakus, tapi dia sukses jadi pemain Afrika kelima yang mencetak hattrick di Liga Champions setelah Didier Drogba, Samuel Eto’o, Yacine Brahimi, dan Yakubu Aiyegbeni. Dortmund melaju ke perempat final usai unggul agregat 4-1.

Aubameyang membuka keran gol “Die Borussen” di babak pertama memanfaatkan sundulan rada ngasal Christian Pulisic. Padahal Pulisic maksudnya menyundul ke gawang tapi malah mengarah ke Aubameyang. Bola kentang alias kena tanggung itu pun langsung diteruskan ke gawang Ederson Moraes.

Aubameyang yang sangat lincah itu memang beberapa kali mengancam gawang Ederson. Sayang, jarang ada yang menemui sasaran. Mungkin karena analisa SWOT-nya kurang mendalam.

Barulah di babak kedua, Dortmund menambah keunggulan melalui Pulisic usai menerima umpan indah seindah rambut Raline Shah. Aubameyang yang punya speed kencang di PES itu juga akhirnya membuktikan diri.

Dia mencetak dua gol tambahan setelah memanfaatkan umpan silang Marcel Schmelzer dan Eric Durm yang merusak rumah tangga orang. Bola asyik itu bikin Aubameyang tinggal cebok saja sampai bersih.

Pelatih Thomas Tuchel mengaku senang melihat pembuktian pemain asal Gabon itu. Ternyata Aubameyang tak cuma bisa lari kencang saja, tapi juga punya penyelesaian yang bagus.

Sekadar info, rekor lari Aubameyang pernah mengalahkan Usain Bolt, pemegang rekor dunia lari 100 meter tercepat. Pernah dalam sesi latihan di Dortmund, Aubameyang mencatat waktu 3,70 detik untuk jarak 30 meter. Sedangkan Bolt untuk jarak 30 meter menembuh 3,78 detik.

“Kita semua melihat Aubameyang yang sebenarnya. Tidak seperti di leg sebelumnya,” kata Tuchel, dikutip Goal. 

Bicara soal pertandingan, Tuchel juga tak menyangka bisa menang besar. Tentu saja, dia bukan Ki Kusumo, Ki Joko Bodo, ataupun Paul The Octopus yang bisa meramal pertandingan.

“Kalau saya memprediksi pertandingan hasil besar ini, itu tidak menghargai Benfica. Kami benar-benar tak menyangka bisa menang sebesar ini. Benfica itu tim kuat dan sulit menghadapinya,” kata Tuchel dikutip dari UEFA. 

Main photo credit: Sportal.co.nz

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here