Melakukan selebrasi mungkin adalah salah satu hal yang pasti dilakukan seorang pemain sepak bola setelah mencetak gol. Tapi melakukan selebrasi pun tak bisa sesuka hati. Terdapat beberapa aturan yang mengatur selebrasi dalam sepak bola.

Beberapa waktu lalu, Sergio Ramos menerima kartu kuning dari wasit setelah mencetak gol. Hal tersebut terjadi pada laga kualifikasi EURO 2020 saat Spanyol melawan Rumania yang berakhir dengan skor 2-1 untuk kemenangan “La Furia Roja”.

Baca: Ramos Bek Rasa Striker, Rumania Dibuat Tekor

Saat itu Ramos mencetak gol pembuka untuk Spanyol melalui titik putih. Seperti biasa, namanya habis mencetak gol, pasti selebrasi. Jarang ada yang habis mencetak gol lalu tahlilan.

Pada sepak bola modern ini memang jarang ada pemain yang hanya diam saja macam kesambet setan pintu setelah mencetak gol. Pasti langsung selebrasi.

Kecuali sudah kalah dengan skor telak 0-7, lalu mencetak satu gol balasan, dan selebrasinya aneh-aneh seperti sikap lilin atau kayang dengan satu tangan. Tidak tahu diri yang seperti itu namanya.

Kembali ke Ramos, Ramos saat itu melakukan selebrasi dengan meletakan kedua tangannya di depan mata seperti membentuk kacamata. Ramos melakukannya ke arah kamera televisi.

https://twitter.com/Rossmac212/status/1071911294465384448

Tapi akibat selebrasi tersebut, Ramos malah mendapat kartu kuning dari wasit Deniz Aytekin yang menilai selebrasi tersebut sebagai upaya untuk memprovokasi publik tuan rumah.

Hal itu sendiri ternyata kesalahpahaman karena Ramos melakukannya untuk sang keponakan. Usai laga Aytekin disebut meminta maaf atas kejadian tersebut.

Dari hal tersebut, dapat dilihat memang bahwa selebrasi dalam sepak bola tidak bisa dilakukan sesuka hati. Ada aturan-aturan yang ditetapkan FIFA yang tidak boleh sembarang dilakukan oleh seorang pemain.

Memang melakukan selebrasi layaknya sebuah kewajiban dan ritual setelah mencetak gol.

Sebab ketika selebrasi seorang pemain merayakan momen tersebut sekaligus meluapkan segala emosi. Apalagi jika gol dicetak pada injury time menit ke-120+3, laga Final Piala Dunia, skor masih 0-0.

Kalau zaman dahulu mungkin hanya mengangkat satu tangan atau saling berpelukan satu sama lain. Tapi seiring berkembangnya zaman, selebrasi kini sudah banyak dimodifikasi macam motor matic Thai Look. Sampai-sampai di gim FIFA saja ada pencetannya untuk selebrasi tertentu.

https://twitter.com/FootbaII_HQ/status/1169258920617156610

Melakukan selebrasi yang unik memang tidak ada masalah, tapi satu hal yang tidak diperkenankan adalah selebrasi yang berlebihan dan memicu provokasi.

Seperti contohnya yang dilakukan Granit Xhaka dan Xherdan Shaqiri pada Piala Dunia 2018 lalu saat Swiss berhadapan dengan Serbia.

Kedua pemain tersebut melakukan selebrasi dengan membentuk gestur tangan layaknya burung di lambang negara Albania, yang juga merupakan etnis mereka. Seperti diketahui pada masa lalu, Albania dan Serbia terlibat pada konflik antar negara.

Seperti dilansir dari BBC, aturan FIFA menyatakan bahwa “Siapapun yang melakukan provokasi terhadap publik saat pertandingan, akan mendapat larangan bertanding pada dua pertandingan serta denda minimum 5.000 Swiss franc atau 3.800 poundsterling.”

Dewan Asosiasi Sepak Bola Internasional (IFAB) juga menyebut bahwa pemain harus diberikan kartu kuning akibat pelanggaran tersebut.

Selain itu selebrasi yang mengandung ujaran politik juga dilarang. Seperti yang dilakukan Robbie Fowler pada tahun 1997 saat mendukung aksi mogok buruh.

https://twitter.com/GMS__Football/status/1170241450581381121

Secara eksplisit, hukum FIFA mengatakan “pemain tidak boleh menunjukan pakaian dalam yang menunjukkan … pernyataan atau gambar politik”.

Peraturan FIFA sendiri menyatakan bahwa “pemain boleh melakukan selebrasi saat mencetak gol, selama tidak dilakukan berlebihan”.

FIFA juga melarang beberapa perayaan yang dilakukan dengan:

  • Memanjat pagar pembatas dan / atau mendekati penonton dengan cara yang menyebabkan masalah keselamatan dan / atau keamanan
  • Melakukan gerakan atau bertindak dengan cara yang provokatif, merendahkan atau menghasut
  • Menutupi kepala atau wajah dengan topeng atau benda serupa lainnya
  • Membuka baju kemeja atau menutupi kepala dengan baju tersebut

Kurang lebih hal-hal tersebut yang penting untuk menjadi perhatian saat melakukan selebrasi. Bila ingin melakukan koreografi seperti tarian-tarian yang sudah di-setting boleh-boleh saja. Asal tidak lama-lama juga melakukan selebrasi tarian sampai 30 menit macam nonton pembukaan acara 17-an. Hal yang penting untuk diingat adalah selebrasi tidak boleh berlebihan dan membuat pihak lain terprovokasi.

https://twitter.com/FootbaII_HQ/status/1156282422167769090

Main photo: baomoi.com

Source: BBC

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here