Atalanta yang baru menjalani debut Liga Champions musim lalu, kini kembali menorehkan hasil gemilang. Setelah musim lalu bisa sampai ke perempat final dan nyaris saja melangkah ke semifinal karena kebobolan dua gol pada menit akhir, Atalanta membuktikan kalau saat itu bukanlah keberuntungan.

Memang ada saja tim kuda hitam yang nyawa atau hokinya cuma semusim doang. Ibarat kata “One Season Wonder” macam Leicester City. Alias cuma numpang lewat atau numpang beken saja sebentaran.

Ternyata Atalanta enggak seperti itu. Tim yang tak ada hubungan saudara dengan Atta Halilintar itu kembali melanjutkan tren positifnya di Liga Champions.

Setelah berada di peringkat ketiga dan kembali lolos ke UCL musim ini, Atalanta pun mulai melepas baju “medioker” mereka untuk segera ganti jadi “cosplay” tim papan atas Eropa.

Pada laga pertama, tim debutan Midtjylland dilumat habis oleh Atalanta yang hobinya membantai lawannya itu. Atalanta ini memang kadang suka kerasukan Bayern Muenchen juga. Hobinya membantai orang.

Tapi kadang suka enggak kira-kira, lawan tim debutan Midtjylland masih dibantai juga. Mereka enggak mikir, kalau mereka juga musim lalu berstatus tim debutan. Lalu sudah sok-sokan berasa senior kali sekarang, Midtjylland yang masih junior langsung “digencet”.

https://twitter.com/ChampionsLeague/status/1319004718417530880

Padahal Atalanta merasakan sendiri bagaimana tiga laga perdana mereka dibantai Dinamo Zagreb 0-4, lalu kemudian Manchester City 1-5.

Mungkin Atalanta ini dendam. Dulu waktu masih junior, mereka dibegitukan. Sekarang sudah naik ke kelas dua, gantian juniornya diisengin.

Duvan Zapata membuka kemenangan “La Dea” lewat sebuah tendangan jarak dekat, meski tak sedekat 1 cm di depan wajah kiper Jasper Hensen.

Papu Gomez kemudian menggandakan keunggulan lewat tendangan jarak jauh. Dia berusaha mem-balance gol Duvan, jika Duvan dari jarak dekat, maka Gomez pun dari jarak jauh.

Mungkin biar laporannya ke orang tua masing-masing sama-sama enak. Bisa cerita ada gol dari jarak dekat dan ada juga jarak jauh.

Kemudian Luis Muriel mengganjilkan skor jadi 3-0 setelah memanfaatkan bola muntah dari tepisan kiper Hensen. Hensen ini dari namanya betul-betul orang Denmark sekali. Kalau tidak Jansen mungkin Hensen. Jarang ada orang Denmark yang namanya Taufik atau Supriadi.

Aleksey Miranchuk kemudian menutup kemenangan Atalanta jadi 4-0 lewat tendangan ‘woles‘. Gayanya memang woles sekali saat menendang bola. Pelan tapi pasti.

Pelatih Gian Piero Gasperini pun senang dengan Atalanta yang mampu bangkit usai dibantai Napoli weekend kemarin.

“Kami memiliki begitu banyak pertandingan hebat, jadi hari libur bisa terjadi dan kami mengalami kesulitan saat lawan Napoli. Tim ini selalu bereaksi dengan baik terhadap kemunduran, kami perlu menang hari ini dan itu tidak mudah, tidak peduli seperti apa hasilnya, “kata Gasperini dikutip Republika.

SHARE
Previous articlePep Bahagia Bak Pengantin Baru Lihat Hasil Timnya
Next articleMilan Tanpa Gagal, Inilah Milan UpNormal
Bolatory memberikan informasi terkini tentang sepakbola dilengkapi data dan analisis dengan gaya penulisan sesuka hati, loncat ke sana-ke sini, serta menghiraukan semua masalah di muka bumi ini. Tapi kami bukan kera sakti, kami adalah Bolatory.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here