Oleh: Fahmi Adlansyah

Akhir-akhir ini, dunia sepak bola diramaikan oleh keputusan kiper muda Italia, Gialuigi Donnaruma, yang tidak mau memperpanjang kontraknya dengan AC Milan karena alasan uang. Padahal uang adalah permasalahan yang wajar seperti yang terlantun dalam lagu Nicky Astria yang berjudul uang.

“Tiada bukan, tiada lain mereka mencari cara tepat untuk mendapatkan uang. Oh…uang… oh…lagi-lagi uang”, begitulah liriknya. Wajar saja anak berumur 18 tahun ingin merasakan uang yang banyak. Awkarin saja umur segitu duitnya sudah mengalahkan karyawan kantoran yang pada suka nyinyir di medsos.

Namun, ada hal positif dari masalah yang dialami oleh Donnaruma. Yaitu Italia tidak akan kekurangan stok penjaga gawang. Yang menjadi pertanyaan, bagaimana nasib penjaga gawang yang lebih tua dari Donarumma?

Apakah kiper dengan nama yang biasa saja seperti Salvatore Sirigu, Federico Marchetti sampai Mattia Perin tidak akan mendapatkan tempat di Timnas Italia. Apakah mereka akan beralih profesi menjadi penjual Tupperware, membuka angkringan, atau jadi penggiat judi online?

Tren ini sering terjadi di beberapa negara dengan munculnya kiper muda berbakat berarti akan mengubur mimpi kiper senior yang biasa-biasa saja penampilannya bermain membela negaranya. Spanyol, Italia, dan Indonesia pun mempunyai kesamaan dalam hal ini.

Munculnya Iker Casillas saat masih berumur 19 tahun yang uang jajannya pun masih ditaruh di atas kulkas membuat senior-seniornya seperti Santiago Canizares, Jose Molina, Manuel Almunia, Jose Pinto, sampai Ricardo Lopez harus gigit jari sambil main Capsun di HP.

Yang paling sial, kiper-kiper seangkatan Casillas seperti Pepe Reina dan Victor Valdes juga jadi mati kariernya bersama “La Furia Roja”. Jadi cadangan abadi kiper ganteng sejak lahir itu.

Di Italia, munculnya Gialuigi Buffon pada tahun 1998 untuk bermain di kualifikasi Piala Dunia menggantikan Gianluca Pagliuca. Mungkin karena pada saat itu topinya Pagliuca yang berasa mirip Wakabayashi itu sedang hilang.

Buffon menggeser kiper-kiper senior seperti Angelo Peruzzi, Francesco Toldo, sampai Francesco Antonioli untuk duduk manis menghiasi lapangan hijau. Kiper seangkatannya macam Christian Abbiati, bahkan cuma empat kali doing main bersama “Gli Azzurri”. Kasihan sekali, Yang Mulia.

Tidak mau kalah, Indonesia mempunyai skema cukup mirip dengan munculnya Kurnia Meiga yang entah ditemukan di mana, mungkin sedang nongkrong bersama teman-temannya di daerah Pasar Rebo. Hal itu membuat kiper kawakan Markus Horison cerai dengan Kiki Amalia dan nasib Jendri Pitoy terkatung-katung.

Fenomena kiper muda yang mampu memberikan kejutan bahkan mendapat kepercayaan pelatih di tempat utama seharusnya menjadi pecutan bagi kiper-kiper yang sudah termakan umur. Pengalaman memang menentukan, tapi kalau skill-nya lebih jago apa boleh dikata.

Main photo: Sepakbola.com 


CimenkFahmi Adlansyah

Pecinta cilor, fans Persikad Depok

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here