RB Leipzig ternyata belum aman buat tampil di Liga Champions musim depan. Meski memastikan diri berada di posisi kedua Bundesliga dan otomatis lolos ke Liga Champions, nyatanya UEFA bisa membatalkannya. Lho, ada apa?

Usut punya usut, sebuah tim bernama RB Salzburg memastikan diri jadi juara Liga Austria. Kalau jadi juara maka otomatis mewakili Austria di kompetisi teratas Eropa tersebut.

Permasalahannya, UEFA memiliki aturan bahwa dalam satu kompetisi di musim yang sama tidak boleh ada dua klub di bawah naungan satu pemilik. Atau bahasa sederhananya, tidak boleh ada satu pemilik yang punya naungan dua klub.

Nah, Salzburg dan Leipzig kebetulan memiliki pemilik yang sama, yakni perusahaan minuman energi bernama Red Bull. Kalau di Indonesia lebih dikenal dengan Kratingdaeng, sedikit berbeda tapi punya sejarah yang sama.

Makanya, nama klub Salzburg dan Leipzig sama-sama pakai inisial “RB” di depannya. Logonya juga hampir sama. Namun, untuk Leipzig coba “dipelesetkan” jadi RasenBallsport biar kelihatan beda dikit. Padahal dalamnya pun sama aja.

Ada satu klub lagi yang di bawah naungan Red Bull, yakni New York Red Bull yang main di Liga Amerika Serikat (MLS). Untung saja, logo PDI Perjuangan bantengnya berwarna hitam. Kalau merah bisa dikira bagian dari Red Bull juga.

Hasil gambar untuk rb leipzig rb salzburg
Sama-sama banteng merah. (Source: Sky Sports)

UEFA sengaja melarang dua klub satu pemilik bermain di kompetisi yang sama. Alasannya karena konflik kepentingan. Bisa saja keduanya main mata sehingga menguntungkan salah satu klub, atau bisa jadi menguntungkan dua-duanya.

Coba bayangkan kalau seandainya keduanya bertemu di penyisihan grup. Kemudian mereka main sepak bola gajah banyak-banyakan gol, skornya bisa sampai 15-15 biar strikernya jadi top skor. Rada konyol.

Belum diketahui keputusan Red Bull untuk mencari solusi masalah ini. Pasalnya, kasihan juga si Leipzig yang sudah capek-capek peringkat dua tapi tidak bisa tembus Liga Champions.

Menurut statuta federasi, tim dengan peringkat lebih tinggi di liga domestik yang lebih berhak memasuki kompetisi jika terdapat situasi seperti ini. Makanya, Leipzig lah yang siap-siap didepak dari Liga Champions.

Kemungkinan Red Bull bakal mencari celahnya. Apakah salah satu klub dijual sebagai “akal-akalan” keduanya dapat berlaga di Liga Champions. Namun, belum ada yang tahu. Hanya Red Bull dan Tuhan yang tahu.

Tapi jika dijual, risikonya juga besar. Pasalnya, juara Austria tidak langsung lolos otomatis ke putaran final. Artinya, Salzburg perlu melewati fase kualifikasi babak kedua dan dalam lima musim terakhir mereka tak pernah lolos.

Tentu saja bisa bikin pemiliknya galau dan serba salah kayak Raisa. Kalau mesti menunggu Salzburg lolos atau tidak, maka terlalu lama. Keburu pendaftaran ulang dari UEFA segera ditutup pada sekitaran Juni-Juli.

“Semua kriteria termasuk soal kepemilikan akan diverifikasi untuk setiap klub oleh UEFA hanya jika telah menerima formulir pendaftaran dan dokumentasi kompetisi dari asosiasi sepak bola nasional dan klub, menyusul berakhirnya musim di masing-masing liga,” tulis pernyataan resmi UEFA dikutip Goal. 

Yang pasti, Leipzig jangan keburu jejingkrakan bisa lolos ke Liga Champions untuk pertama kalinya itu. Mereka perlu menunggu keputusan pemilik dan UEFA yang akan menentukan nasibnya.

Kalau sampai tidak bisa, maka Dominik Kaiser dan kawan-kawan harus siap-siap menyanyikan lagu Dewa berjudul “Pupus”. Kasihan sekali, yang mulia.

Main photo credit: Tirto

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here