Oleh: Paundra Jhalugilang

Artikel ini bukan soal kambing berkaki lima, gajah berbuntut ular, apalagi Donald Trump menjadi presiden Amerika Serikat. Melainkan Antoine Griezmann (baca: Antoang Griyezman) yang menjadi pemain terbaik di La Liga musim 2015/16.

Mengapa aneh? tentu saja karena dia sukses mengalahkan dominasi Lionel Messi dan Cristiano Ronaldo yang selalu berlangganan gelar tersebut. Griezmann menjadi orang ketiga yang mampu meraih gelar itu setelah La Liga Awards dimulai sejak 2008/09.

Orang ketiga literally ‘orang ketiga’, bukan selingkuhan atau orang yang suka mengganggu hubungan orang. Tapi orang ketiga, setelah orang pertama dan orang kedua.

Keanehan lainnya bukan karena dia punya selebrasi unik ala Drake pada lagu Hotline Bling, tetapi karena prestasi individu dan prestasi klubnya bersama Atletico Madrid tidak lebih spesial dari duo mega bintang di atas.

Di level individu, pemain asal Prancis itu hanya berada di urutan keenam daftar pencetak gol La Liga dengan 22 gol. Dia berada di bawah Luis Suarez (40 gol), Ronaldo (35 gol), Messi (26 gol), Neymar, dan Karim Benzema (24 gol).

Sebetulnya gol yang dicetak Griezmann sangat banyak, apabila dia bermain di Seri A, Liga Indonesia, atau bahkan Liga Zambia. Tapi apa daya, striker-striker lainnya di La Liga lebih buas dan seperti terlihat mudah membobol gawang lawannya.

Dari segi assist, Griezmann bahkan tak masuk ke dalam daftar 10 top assist di La Liga musim lalu. Dia cuma sedekah enam assist saja.  Sedangkan pada level klub, Atletico musim lalu hanya berada di peringkat ketiga di bawah Barcelona dan Madrid.

Lantas mengapa Griezmann layak meraih gelar pemain terbaik La Liga? Memang sangat mengejutkan berbagai pihak.

Beredar kabar bahwa mantan pemain Real Sociedad itu dinilai sukses membawa Atletico dan Prancis menjadi finalis Liga Champions dan Piala Eropa. Namun, alasan itu mudah dipatahkan seperti hati para pria saat wanita incarannya disabet pria lain.

Final Liga Champions lalu, Atletico berhadapan dengan tim sekotanya, Real. Real Madrid tentunya, bukan Real Zaragoza apalagi Real Estate.

Tentu banyak pemain La Liga di sana. Sebut saja Ronaldo, Gareth Bale, sampai Kiko Casilla, meski tak ada nama Bambang Pamungkas dan Mat Halil di sana. Ditambah lagi, Madrid yang punya nama ‘Real’ lah yang jadi juaranya, bukan Atletico.

Kemudian di final Piala Eropa, tentu sebenarnya tak ada hubungannya dengan La Liga. Tapi okelah, jika mau dikaitkan tetap saja Griezmann kembali kalah dari Ronaldo.

Bunda mengandung jangan salahkan ayah tak pakai sarung. Griezmann terpilih mungkin karena banyak yang dukung. Ya, pemilihan La Liga Awards memang dipilih oleh kapten dan wakil kapten setiap klub.

Mungkin saja mereka bosan dengan pemenang yang itu-itu melulu. Ingin cari yang beda, jangan dari Barcelona dan Real Madrid.

Mau pilih Aritz Aduriz rasanya kurang mantap. Mau pilih Jonathan Viera tapi kurang dikenal. Griezmann lah yang ‘pas susunya’. Pemain yang lagi naik daun, udah lumayan dikenal gara-gara jadi top skor Piala Eropa, secara statistik juga oke punya.

Tapi, dengan capslock besar tentunya, khusus kategori pemain terbaik dipilih berdasarkan statistik. Nah loh!

Menurut situs laliga.es, penghargaan ‘Best Player’ mengacu pada data teknis yang dilakukan MediaCoach, sebuah alat analisis berbasis video yang dikembangkan MediaPro dan La Liga untuk menganalisis pemain dari 20 klub Liga BBVA.

Sistem ini dibangun untuk meningkatkan kinerja tim dengan analisis pertandingan, analisis pemain, serta memeroleh statistik yang komprehensif. Selain itu, MediaCoach memungkinkan analisis dari permainan secara real time dan ekstraksi data semua pertandingan yang dimainkan pada setiap matchday Liga BBVA.

Jadi, semua hasil statistik ‘Best Player’ keluar berdasarkan apa yang dikaji oleh MediaCoach. Bisa jadi, Griezmann-lah yang terbaik. Gol dan assist boleh kalah jauh, tapi bagaimana permainannya memberikan dampak yang sangat besar bagi Atletico.

Messi dan Ronaldo juga punya statistik yang membanggakan. Tapi jika tak ada mereka berdua, masih banyak pemain lainnya yang bisa cover. Berbeda dengan sosok Griezmann di Atletico yang begitu berarti, begitu menggoda.

Dampaknya bagi “Los Rojiblancos” sangat besar, sebesar dada Nikita Mirzani. Kelincahannya bagai Hary Tanoe yang lihai berpindah-pindah partai.

Mungkin itulah yang menjadi pertimbangan setelah melihat data analisis yang diungkap MediaCoach.

Namun sekali lagi, semua hanya bicara kemungkinan. Pasalnya, kita juga tak bisa mengtahui bagaimana hasil MediaCoach secara keseluruhan musim lalu. Selain tidak ada akses, bahasanya juga bahasa Spanyol.

Yang jelas, Atletico yang kini mendominasi lewat Jan Oblak (kiper terbaik), Diego Godin (bek terbaik), dan Diego Simeone (pelatih terbaik).*tamat


paundraPaundra Jhalugilang

Penulis adalah pemuda harapan bangsa yang biasa-biasa saja. Bekas wartawan tanpa pengalaman yang melihat sepakbola dengan penuh pesona. 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here