Oleh: Paundra Jhalugilang

Lain cerita Gianluigi Buffon dan Hugo Lloris yang menjadi buah bibir media massa pekan ini, lain pula cerita Igor Akinfeev (baca: Akinfeyefv). Kiper CSKA Moskow itu justru di-bully media karena tidak pernah cetak cleansheet selama 10 tahun, dalam 40 pertandingan Liga Champions terakhirnya.

Ya, Buffon dan Lloris memang disanjung-sanjung usai melakukan beberapa penyelamatan spektakuler. Buffon sukses mementahkan tendangan penalti, membuat reflek tepisan gemilang, dan menjaga gawangnya tetap perawan dari pria-pria Lyon yang cukup beringas. Bahkan selalu cleansheet dalam tiga pertandingan Liga Champions di Grup H.

Lloris, yang membela Tottenham Hotspur juga mencetak cleansheet. Kiper asal Prancis itu membuat enam penyelamatan salah satunya saat menangkap bola tepat di garis gawang hasil tendangan Javier Hernandez, striker Bayer Leverkusen. Bola tidak sepenuhnya melewati garis gawang sehingga kamera mahal milik UEFA menyatakan “No Goal“.

Berbeda dengan dua kiper kelas dunia itu, Akinfeev malah jadi bulan-bulanan media massa. Kiper Rusia itu tak pernah menjaga keperawanan gawangnya di Liga Champions. Akinfeev sepertinya tidak pernah ikut penyuluhan seks bebas di SMP-SMA sehingga ‘gawangnya’ bobol terus.

Prestasi ini jelas sebuah kemelorotan bagi Akinfeev, seorang kiper yang pernah masuk dalam kategori “wonderkid” di game simulasi Football Manager 2005 dan 2006. Jika Anda penggemar FM pada zaman itu, tentu tahu sulitnya membeli kiper ini. Kadang-kadang ada yang pakai cara curang dengan melakukan dual manager. 

Akinfeev memang luar biasa saat itu. Hitung-hitung baru lulus SMA sudah jadi kiper utama tim nasional Rusia. Bandingkan dengan kita yang lulus SMA malah sibuk pacaran, main Ragnarok, nonton bokep, atau sibuk demonstrasi bagi mahasiswa-mahasiswa eksis.

Pada musim 2007/08, kiper yang setia bersama CSKA itu sukses mencatat 12 cleansheet dari 33 pertandingannya. Bahkan sempat mencatat 20 cleansheet dari 39 pertandingan beberapa tahun setelahnya.

Rupanya, pencatatan cleansheet itu tidak berlaku baginya di Liga Champions. Sejak menahan imbang Arsenal 0-0 pada 1 November 2006, pemain yang sangat pandai berbahasa Rusia itu selalu kebobolan di laga-laga berikutnya.

Dia bisa saja dinobatkan sebagai kiper terburuk Liga Champions lantaran tak bisa menjaga gawangnya dari kebobolan selama 10 tahun jika rekor ini terus berlanjut. Waktu 10 tahun adalah waktu yang lama, menyamai dua periode kepemimpinan Presiden SBY.

Pada musim 2013/14, menjadi musim paling banyak gawangnya dibobol selama kariernya di Liga Champions. Yakni berjumlah 17 gol dari enam pertandingan saja. Artinya, dia hampir kebobolan tiga gol per pertandingannya.

Tak hanya itu, performanya juga seperti mengalami kemunduran. Tak sehebat di FM 2006 atau 2007. Penampilan Akinfeev sebenarnya masih cukup bertaji dan terampil dalam melakukan penyelamatan.

Namun entah mengapa gawangnya seolah sangat mudah dibobol. Penampilannya sering anyep seperti handuk lupa dijemur. Bahkan pada perhelatan Piala Eropa 2016 lalu, Rusia menjadi tim paling banyak kebobolan di penyisihan grup sebanyak enam gol.

Akinfeev juga melakukan kebodohan tak penting di Piala Dunia 2014. Tendangan pria bermata sipit asal Korea Selatan, Lee Keun Ho, yang tak kencang-kencang amat itu gagal ditangkap dengan sempurna.

Sebaliknya, bola malah masuk ke gawang sendiri dan Akinfeev bak curut ketangkap basah mencolong kentang McD langsung melompat kepanikan. Membuat segenap warga Rusia bertepuk jidat.

Jika dia hidup di zaman Joseph Stalin, mungkin hidupnya bisa berakhir di tempat atau minimal kariernya langsung tamat. Beruntung dia hidup di zaman Vladimir Putin, meski garang tapi lebih humanis dan bermartabat.

Meski penampilannya tak semerosot harga batubara di pasar internasional, Akinfeev wajib berbenah diri. Bukan hanya solusi standar yang ditawarkan seperti latihan lebih giat atau banyak makan pisang. Tapi mungkin sudah saatnya bagi kiper 30 tahun itu mencari ilmu di klub lain.

Walaupun akan sulit mencari klub papan atas top Eropa, tapi setidaknya dia bisa membuka peluang untuk bergabung dengan tim Eropa lainnya untuk mencari pengalaman baru. Seperti Porto, Villareal, Schalke, Lazio, atau mungkin Semen Padang jika dia berminat.

Dengan bergabung di klub baru dan liga baru, dia akan bertemu dengan striker-striker kelas dunia. Level permainannya juga akan meningkat. Dari yang tadinya level Regular mungkin bisa naik ke level Professional jika diibaratkan game PES.

Ya, di Liga Rusia dia tak akan bertemu striker-striker hebat macam Cristiano Ronaldo, Gareth Bale, Luis Suarez, Lionel Messi, Gonzalo Higuain, Zlatan Ibrahimovic, Thomas Mueller, Sergio Aguero, Edinson Cavani, Robert Lewandowski, dan striker-striker lainnya yang tak bisa disebutkan satu persatu.

Paling-paling hanya bertemu dengan Aleksandr Kerzhakov dan Aleksandr Kokorin yang sering dia ajak makan Indomie ala Rusia di tempat latihan timnas.

Itulah mengapa, Akinfeev yang sama sekali tak mengerti bahasa Indonesia itu merasa hebat bersama CSKA di Liga Primer Rusia. Sudah enam gelar dia persembahkan untuk tim berjuluk “Koni” itu. Bukan Komite Olahraga Nasional Indonesia, melainkan “Koni” yang dalam bahasa rusia berarti “kuda”.

 Tapi saat tampil di Liga Champions atau turnamen internasional lainnya bersama timnas, Akinfeev bagai kerupuk putih yang sudah lama mendam di kaleng kerupuk warteg berwarna biru bercap ‘SKS’. Melempem. Seperti yang sudah dijelaskan tadi, Akinfeev seperti sangat mudah dibobol. Statistik berkata demikian.

Dia gelagapan menerima tendangan-tendangan deretan striker ‘alien’ yang disebutkan tadi. Jangankan menyamai legenda Lev Yashin, menyamai Vyacheslav Malafeev (baca: viyaceslafv malafeyefv), seniornya di timnas Rusia saja jangan-jangan belum tentu lebih baik.*tamat


paundraPaundra Jhalugilang

Penulis adalah pemuda harapan bangsa yang biasa-biasa saja. Bekas wartawan tanpa pengalaman yang melihat sepakbola dengan penuh pesona. 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here