Stadion The Valley, markas Charlton Athletic, tiba-tiba dalam sekejap menjadi kandang babi. Tentu ini bukan sulap bukan sihir ala Deddy Corbuzier. Tapi benar-benar terjadi saat pertandingan Charlton melawan Coventry City di League One, liga kasta ketiga sepakbola Inggris.

Tentu saja babi di sini bukannya benar-benar hewan babi berkaki empat atau biasa disebut “sapi kaki pendek”, yang haram bagi umat muslim. Melainkan mainan babi unyu yang terbuat dari plastik berwarna pink. Sungguh menggemaskan.

Suporter kedua tim secara kompak melempari mainan babi saat pertandingan yang baru berjalan beberapa detik setelah kick off berlangsung. Alhasil, lapangan jadi penuh dengan babi-babi kecil yang berserakan akibat serangan fajar. Kasihan si babi, tidak bersalah apa-apa tapi dilempar-lempar ke lapangan.

Babi unyu yang dilempar ke lapangan. (tribunnews)
Babi unyu yang dilempar ke lapangan. (tribunnews)

Aksi suporter kedua tim ini rupanya sebagai bagian dari sikap kekecewaan kepada pemilik klub masing-masing. Mereka sama-sama sakit hati pada pemilik timnya.

Babi menjadi pilihan bagi kedua suporter untuk menyindir para pemilik klub yang haus dan rakus kekuasaan seperti hewan babi yang suka melahap apa saja. Termasuk katanya memakan kotorannya sendiri, bahkan jika berubah jadi babi ngepet dapat memakan uang rakyat seperti di mitos-mitos kampung.

Mainan babi juga bisa jadi dipilih koordinator aksi karena low budget. Jelas akan mahal jika koordinator menyediakan makan siang apalagi amplop berduit seperti demonstrasi yang biasa terjadi di Indonesia.

Setidaknya, ada sekitar 3.000 mainan babi yang dilempar ke lapangan. Hal ini membuat pertandingan terpaksa ditunda lima menit di stadion yang tidak ramai-ramai amat itu. Para petugas stadion termasuk beberapa pemain turut turun tangan membantu membersihkan lapangan.

Fans Charlton protes kepada pemilik klub, Roland Duchatelet, seorang miliuner asal Belgia yang gemar gonta-ganti pelatih. Selama kepemimpinannya, klub berjuluk “The Addicks” itu sudah tujuh kali mengganti pelatih. Kalah rambutnya Syahrini yang suka gonta-ganti model.

Sedangkan Coventry, protes lantaran tak senang klub idolanya dikuasai Sisu Group, sebuah perusahaan software asal Amerika Serikat. Ini sudah kesekian kalinya mereka protes kepada klub sejak 2011 karena menurut mereka hanya jadi parasit klub. Seperti lagunya Gita Gutawa.

Serangan fajar. (gilabola)
Serangan fajar. (gilabola)

Aksi ini tidak hanya dilakukan di stadion. Tapi juga dilancarkan di jalanan. Bahkan seorang suporter Charlton sempat ditegur lantaran membawa bendera Korea Utara. Andai yang dibawanya bendera Slank atau Oi, mungkin dia diperbolehkan masuk asalkan tidak memakai helm.

“Harus saya katakan, aksi ini cukup berbeda,” kata pelatih Charlton, Russell Slade, dilansir BBC Radio. “Saat kami frustasi, masyarakat berhak menyuarakan pendapatnya dan para fans sudah melakukan hal tersebut hari ini.”

“Selama aksi itu dilakukan dengan cara yang pantas dan aman, tidak ada masalah,” sambungnya. “Fokus kami tetap bertanding dan bisa memenangkan pertandingan.”

Charlton sendiri memenangkan laga tersebut 3-0 lewat gol-gol pemain kurang terkenal macam Ricky Holmes, Josh Magennis, dan Ademola Lookman.

Andai aksi ini dapat ditiru oleh suporter-suporter Indonesia, tentu suasana akan terasa lebih damai. Apalagi jika mereka melemparkan uang pecahan seratus ribuan tentu akan bermanfaat buat klub dan pemain yang kerap mengalami keterlambatan gaji.

Tidak seperti sekarang yang rata-rata melemparkan botol minuman, sampah makanan, hingga mungkin sampah masyarakat.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here