Oleh: Paundra Jhalugilang

Match round pertama Piala Dunia 2018 telah berlalu. Banyak kejutan menarik tersaji di laga pertama, semenarik lauk-lauk yang tersaji di meja makan saat lebaran. Ada rendang, opor, sayur godok, sambal goreng kentang, emping, dan bawang goreng.

Beberapa tim unggulan ternyata tak mampu meraih kemenangan seperti Argentina, Brasil, dan tentu saja Jerman. Jerman yang paling joss gandos karena statusnya juara bertahan. Di mana juara bertahan dalam beberapa edisi Piala Dunia terakhir ini semacam kena kutukan.

Memang sudah ada yang bernasib demikian macam Prancis, Italia, dan Spanyol mengalami nasib serupa, yakni gagal menang di laga pertama bahkan tak lolos grup. Tapi Jerman ini masih terbilang mengejutkan bisa kalah dari Meksiko.

Pasalnya status pemain bintang di tim mereka plus kekuatan timnya yang solid macam followers-nya Ayu Ting-Ting. Kemudian status spesialis turnamennya Jerman yang selalu melekat di hati penikmat Piala Dunia.

Argentina yang menghadapi lawan lebih mudah, lebih kecil, dan lebih amatir juga tak mampu mengalahkan Islandia. Padahal Islandia ini cuma berpenghuni 300 ribuan penduduk, setara dengan warga kota Palu.

Pemain-pemainnya juga masih semi-profesional. Tak sepenuhnya mencari nafkah di sepak bola. Ada yang jurkam alias juru kamera bukan juru kampanye, sampai pelatihnya adalah seorang dokter gigi yang di Piala Dunia ini sementara libur praktik dulu.

Nyatanya, pemain mega bintang Lionel Messi dan kawan-kawan tak mampu menembus gawang Islandia lebih dari satu gol. Entah Islandia pakai pembalut merek apa bisa sampai tidak tembus seperti itu.

Brasil yang sempat unggul pada menit belasan, sepertinya diprediksi bakal menang meyakinkan atas Swiss. Apalagi setelah Philippe Coutinho membuat gol jebret yang bikin fans Brasil senang.

Sayangnya cuma sampai di situ saja. Yang pada pasang Neymar sebagai kapten di Fantasy League harus kecewa berat karena cuma dua poin saja.

Bukan cuma mereka bertiga, tim-tim lain hampir mengalami nasib yang sama tapi nasibnya masih lebih beruntung. Prancis dan Inggris mesti menang dengan susah payah dan membuat gol kemenangan di akhir-akhir. Padahal lawannya cuma Australia dan Tunisia yang di atas kertas dan layar HP, harusnya lebih unggul.

Piala Dunia memang selalu menghadirkan kejutan. Pasti ada saja tim-tim yang tak diperhitungkan lalu tak disangka bisa masuk ke perempat final bahkan semifinal.

Contohnya Bulgaria di edisi 1994, Kroasia 1998, Senegal, Korea Selatan, dan Turki 2002, Ukraina 2006, Ghana 2010, sampai Kosta Rika 2014. Namun, biasanya kejutan-kejutan itu cuma ada pada 1-2 laga atau 1-2 tim saja.

Sedangkan berkaca pada laga pertama edisi 2018, setidaknya ada tiga tim besar yang gagal meraih kemenangan. Lalu dua tim lainnya harus menang tipis pada menit-menit akhir. Prancis dan Inggris memang menang, tapi tak dibayangkan menangnya segitu susah payahnya.

Ada beberapa alasan dari berbagai kemungkinan yang menyebabkan memblenya tim-tim unggulan di laga pertama. Jelas bukan karena kurang asupan makan atau hiburan malam, apalagi memikirkan cicilan pada awal bulan.

Pertama, negara-negara kelas dua di sepak bola sepertinya mulai mengalami peningkatan pesat. Jika 10-15 tahun lalu mungkin kekuatannya masih timpang dan beda kelas, tapi berbeda dengan saat ini.

Beberapa negara mulai mempelajari sepak bola seperti apa. Minimal kalau tahu kalah kualitas mereka bisa menggunakan strategi parkir bus Pantura seperti yang dilakukan Islandia. Nyatanya hal itu berhasil.

Apalagi sekarang sudah zamannya Youtube. Semua permainan lawan bisa gampang dilihat di Youtube. Meski masih kalah viewer-nya dengan vloger-vloger di Indonesia yang pada mahal-mahal rate-nya itu.

Kedua, ini bicara negara bukan level klub. Klub-klub Eropa yang kaya makin kaya, yang misqueen semakin misqueen. Kalau klub bebas membeli pemain bintang mana saja selama ada duitnya.

Kalau timnas, tak semudah membeli shampo sachetan di gantungan warung kelontong. Mereka tak bisa membeli pemain, paling banter naturalisasi. Itu juga tak bisa banyak-banyak.

Jika mereka tak punya stok pemain bagus di negaranya, maka habislah seperti Italia dan Belanda. Terutama Belanda yang sudah tak punya pemain sekaliber Arjen Robben dkk.

Sedangkan timnas-timnas medioker kini juga punya pemain-pemain bintang yang bermain di level tertinggi, meski cuma 2-3 pemain saja. Contohnya Mohamed Salah di Mesir, Son Heung Min di Korsel, atau Gylfi Sigurdsson di Islandia.

Beberapa negara sudah mengalami perbaikan kelas macam Kroasia, Polandia, dan Belgia yang pemain-pemainnya jadi rebutan tim Eropa. Padahal 10 tahun lalu mereka enggak ada apa-apanya. Anak zaman sekarang mana tahu itu Marc Wilmots atau Zvonimir Boban, zaman segitu juga namanya enggak terkenal-terkenal amat macam Eden Hazard dkk.

https://twitter.com/oluwashina/status/1009119321774264321

Alasan ketiga mungkin karena ini Piala Dunia. Motivasinya double, semangatnya triple. Lain cerita kalau cuma mau ikutan Piala Presiden, paling yang diturunkan pemain lapis ke-14.

Banyak tim yang tampil ngotot pakai otot bahkan sambil melotot. Bola ke mana saja dikejar. Skill boleh kalah, tapi semangat tak boleh kalah. Setidaknya itulah yang diperlihatkan Meksiko kala mengalahkan Jerman. Juga berlaku buat Islandia yang mematahkan serangan Argentina sampai jatuh bangun tak takut korengan.

Alasan keempat tidak ada alias belum ketemu. Jadi cukup sampai tiga alasan saja. Namun, kejutan-kejutan itulah yang bikin Piala Dunia makin menarik. Bahkan akan semakin menarik jika empat besarnya adalah Senegal, Panama, Peru, dan Islandia.

Main photo: Sky Football


Paundra finPaundra Jhalugilang

Penulis adalah pemuda harapan bangsa yang biasa-biasa saja. Bekas wartawan tanpa pengalaman yang melihat sepakbola dengan penuh pesona. 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here